Selasa, 01 Mei 2012

Pluralisme Dawam Rahardjo

Moh. Shofan


M. Dawam Rahardjo (sebut saja Mas Dawam) adalah tokoh multidimensi (cendekiawan, budayawan, pemikir Islam serta pegiat LSM), dan salah satu ikon intelektual Islam gelombang pertama di Indonesia. Ide-idenya yang segar dan kontroversial—bukan hanya pada pemikiran-pemikirannya tetapi juga tercermin di dalam cerpen-cerpennya (menyebut salah satunya “Anjing Yang Masuk Surga”)—kerap membuat geram banyak orang. Rekam jejak pemikirannya seakan tak mengenal lelah menyuarakan kebebasan, dan pembelaan terhadap kaum yang tertindas. Tetapi, di situlah kekuatan dan kehebatan Mas Dawam, yakni pada ide-idenya yang cemerlang. Berbagai hinaan, cercaan, sampai pada batas-batas yang paling jauh, yakni pengkafiran, pemurtadan, semuanya dihadapinya dengan tenang dan sama sekali tak membuatnya surut, apalagi takut. Mas Dawam tetap mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran, terutama berkaitan dengan isu-isu pluralisme, liberalisme dan sekularisme yang diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kritik Mas Dawam, terhadap golongan Islam konservatif bisa dibilang terlalu pedas. Keberaniannya membela hak-hak semacam penganut Ahmadiyah, Komunitas Eden, Kristen, membuatnya dimusuhi oleh kalangan konservatisme Islam, tetapi di sisi lain juga menempatkannya sebagai pemikir terdepan yang menentang fatwa haram MUI. Mas Dawam melalui pemikiran-pemikirannya yang progresif-liberal selalu menganjurkan kebebasan berpikir dan menjalankan pemikiran pluralisme.

Dalam suatu perbincangan saya dengan Mas Dawam di kantor LSAF, tentang masalah pluralisme, ia berpendapat, jika pluralisme itu dipahami bahwa semua agama itu benar, menurutnya, itu tidak menjadi masalah, tetapi juga tidak terlalu benar. Dikatakan tidak menjadi masalah, karena semua agama itu baik dan benar. Itulah, menurutnya, prinsip pluralisme. Keterangannya bagaimana? Kita sebagai orang Islam tentu saja mempunyai keyakinan bahwa ”sesungguhnya agama yang paling benar adalah Islam”. Hak kita untuk mengatakan itu, dan kita pun termasuk menganut kepercayaan itu. Namun, menurut Mas Dawam, hal ini hanya berlaku bagi kita sebagai muslim. Tetapi itu tidak berlaku bagi orang Kristen. Orang Kristen tidak bisa menerima pandangan semacam itu. Umat Islam tidak akan percaya bahwa Yesus Kristus atau Isa al-Masih itu disalib. Doktrin itu hanya berlaku bagi dan merupakan kepercayaan orang Kristen. Orang Budha punya kepercayaan lain. Orang Hindu juga demikian. Jadi, menurut Mas Dawam, suatu agama itu benar dan agama-agama yang lain salah, itu menurut kita, dan merupakan suatu pandangan yang subjektif. Setiap orang mengakui kebenaran agama menurut kepercayaan masing-masing.

Apa yang menjadi keyakinan Mas Dawam di atas, menurut saya, perlu ditindaklanjuti. Artinya, memahami pluralisme tidak sekadar memberikan tafsir secara kontekstual-historikal terhadap teks-teks al-Qur’an yang sejak awal turunnya sudah membawa gagasan-gagasan liberal. Menafsirkan al-Qur’an secara kontekstual-liberal tidaklah cukup, manakala belum membawa implikasi pembebasan bagi kaum minoritas beragama. Mengharapkan wahyu al-Qur’an sebagai solusi dari semua persoalan kehidupan adalah mustahil jika mekanisme pencarian makna teks terampas dan ditundukkan ke dalam pembacaan yang subyektif. Subyektifitas dipaksakan dengan mengabaikan maksud tekstual yang menjadikan teks diombang-ambing sesuai selera pembaca. Tentu saja teks tetap otoritatif dan pembaca menjadi otoriter, karena kebenaran hanya disajikan melalui satu pembacaan dengan mengabaikan pembacaan lainnya. Model pembacaan seperti ini bisa dikatakan kecerobohan karena telah melakukan ’pemerkosaan terhadap teks’. Sebuah pemahaman yang meyakini al-Qur’an sebagai solusi atas semua persoalan kehidupan seraya mengabaikan pendekatan dari berbagai lintas disiplin ilmu yang berkembang merupakan sebuah mitos yang harus dibongkar.

Dalam pandangan Mas Dawam, jika agama tidak ditafsir secara terus menerus, maka akan berakibat pada kematian pemikiran. Jika ahli pikirnya tidak sanggup melahirkan kontekstualisasi gagasannya serta ulama tidak sanggup bertanggung jawab atas agamanya, maka di situlah awal lonceng kematian agama dimulai. Kita harus berani mempertahankan kebebasan pada saat kebebasan sungguh-sungguh terancam. Sapere aude! “Beranilah berpikir sendiri!” Teks pendek itu terbukti menjadi soko guru dunia modern. Pencerahan—mengikuti Immanuel Kant—terjadi ketika manusia membebaskan diri dari selbst verschuldeten ummundigkeit, ketidak-dewasaan atau ketergantungan yang justru kita tumbuhkan sendiri dalam diri kita.

Mas Dawam, memang sosok yang unik, selalu bangga jika disebut sebagai “intelektual liberal”, tapi ia mengamalkannya secara konsisten lewat praktek berpikir bebas. Ia tidak mau menjadi orang munafik, sok suci dan semacamnya. Ia benci pada kemunafikan, pikiran plin-plan. Dawam selalu menekankan bahwa “pencerahan pemikiran” hanya bisa dicapai dengan keberanian berpikir bebas. Karenanya fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme dalam pandangan Mas Dawam, bisa diartikan sebagai pelarangan kemerdekaan berpikir, berpendapat, dan berkeyakinan, yang merupakan bagian dari hak asasi manusia. Umat Islam perlu menganut paham pluralisme, yaitu paham yang didasarkan pada kenyataan tentang pluralitas yang sudah menjadi kenyataan di dunia modern. Pluralisme menghormati perbedaan dan karena itu harus ada saling menghormati. Jika tidak maka yang lahir adalah konflik yang mendorong kepada tindakan kekerasan. Tanpa filsafat pluralisme, kebebasan beragama akan terancam.

20 April yang lalu, Mas Dawam genap telah berusia 70 Tahun. Namun, di usianya yang sudah semakin tua, ia tetap produktif menulis. Nalar intelektualnya tak pernah lelah menyuarakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Akhirnya, saya ucapkan selamat ulang tahun kepada Mas Dawam. Teruslah menulis, teruslah menyanyikan kebebasan di saat kebebasan benar-benar dibelenggu.

Dimuat di Koran Tempo, 28 April 2012

Senin, 09 Januari 2012

Agama dalam Bingkai Liberalisme dan Sekularisme

Moh. Shofan


Hormati hak asasi manusia
Karena itu fitrah manusia
Kita semua bebas memilih
Jalan hidup yang disukai
Tuhan pun tidak memaksakan
Apa yang hambanya lakukan

Terapkan demokrasi Pancasila
Sebagai landasan Negara kita
Janganlah suka memperkosa
Kebebasan warga Negara
Karena itu bertentangan dengan perikemanusiaan
(Lagu “Hak Asasi” karya Rhoma Irama)


Lagu Rhoma yang saya kutip di atas, seringkali mengingatkan saya akan makna kebebasan. Pada masanya, lagu ini sebenarnya dimaksudkan Rhoma untuk menyindir Golkar, yang saat itu banyak mengintimidasi orang. Rhoma melalui lagu-lagunya yang sarat dengan kritik sosial sempat diinterogasi pihak militer di era Orde Baru, dan dicekal tampil di TVRI selama 11 tahun lamanya. Dalam ajaran Islam, kebebasan mendapat tempat yang tinggi dan terhormat. Kebebasan yang diajarkan Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Tanpa adanya sikap tanggungjawab tatanan masyarakat liberal tak akan pernah terwujud. Dalam liberalisme, penegakan hukum adalah sesuatu yang fundamental. Negara didirikan untuk melindungi hak-hak asasi itu.

Tahun 2011 merupakan tahun suram terkait dengan sejumlah kasus pelanggaran kebebasan beragama. Dalam penelusuran The Wahid Institute (TWI), ditemukan telah terjadi peningkatan pelanggaran dalam kehidupan beragama dan berkeyakinan selama tahun 2011 dibandingkan dengan tahun 2010 lalu. Jika tahun sebelumnya hanya 64 kasus maka jumlah ini meningkat menjadi 92 kasus. Dari 92 kasus pelanggaran itu, selama 2011, Jemaat Ahmadiyah adalah korban terbanyak dengan 46 kasus. Ironisnya di penghujung tahun 2011, kita dikejutkan dengan peristiwa serupa (pelanggaran kebebasan beragama), yakni pembakaran pesantren milik warga Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, pada Kamis 29 Desember 2011—persisnya tiga hari jelang tahun baru 2012.

Sejumlah kasus-kasus tersebut telah menunjukkan kepada kita betapa pemerintah seolah-olah kehilangan tajinya dalam mempertahankan ke-Bhineka-an, dengan melakukan pembiaran terhadap “preman-preman” berjubah agama yang seringkali mengganggu keharmonisan dan kerukunan beragama. Pemerintah yang seharusnya berani menindak tegas pelaku kekerasan, justru malah diancam balik akan menggulingkan pemerintahan jika berani membubarkannya. Sungguh ironis !. Aturan kebebasan atau hak-hak sipil dalam menjamin perlindungan hukum dan kesempatan yang setara bagi semua warga Negara tanpa memandang ras, agama, serta jenis kelamin, hanyalah sekedar aturan. Pertanyaannya: Bagaimana negara bisa disebut demokratis, kalau aturan itu tidak ditegakkan dan justru dilanggarnya sendiri?

Kebebasan sipil bisa dijadikan parameter penting untuk mengukur apakah suatu negara itu demokratis atau tidak. Demokrasi sendiri memerlukan liberalisme dalam pengertian hak-hak sipil. Kalau hak-hak itu tidak ada, tidak ada demokrasi. Robert Dahl, mengingatkan bahwa kebebasan politik secara substansial dihargai lebih baik dalam sistem demokrasi ketimbang non-demokrasi. Demokrasi memberi kesempatan bagi warga negara untuk berekspresi apapun sampai kemudian terbukti bahwa ekspresinya melanggar kebebasan berekspresi orang lain. Itulah alasannya kenapa kemudian dibuat aturan-aturan hukum.

Dan kebebasan, memerlukan peranan negara juga. Kalau kebebasan tidak diimbangi dengan kekuasaan negara, ia menjadi anarki. Munculnya kekerasan dengan mengatasnamakan agama adalah contoh konkrit tindakan anarki. Di Negara sekuler, seperti Inggris, misalnya, berbicara mengenai ateisme bukanlah hal yang tabu. Belum lama ini, bahkan ada kampanye mengenai ateisme. Kalangan ateis memasang iklan ateisme di bus yang berbunyi “Mungkin Tuhan tidak pernah ada. Karena itu jangan cemas lagi dan nikmatilah hidup”. Sebuah iklan yang tidak lazim tersebut tentu saja mengundang berbagai respon dari masyarakat Inggris. Iklan yang menggugah keyakinan ini, seperti dilansir New York Times, adalah sebagai koreksi bagi iklan-iklan yang bernada religius. Iklan tersebut mendapat tanggapan positif dari Gereja Methodist Inggris agar masyarakat membicarakan Tuhan. Bahkan, Ratu Elizabeth II, justru memberikan dukungannya. Sebagai pemimpin Negara sekular, dia mengatakan bahwa kebebasan beragama dan tidak beragama sama bagusnya di Inggris.

Kebebasan tidak sama dengan anarkhi. Kebebasan berkeyakinan melekat pada eksistensi manusia dan karena itu manusia bertanggung jawab atas pilihannya, kebebasan itu adalah anugerah Tuhan yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya dan hanya manusia yang diberi kebebasan untuk memilih kepercayaan, keyakinan dan agama bagi dirinya. Kekhawatiran Khaled Abou el-Fadl, bahwa ketika sebuah kelompok atau individu sudah menganggap dirinya paling otoritatif dalam menafsirkan ajaran keagamaan, maka dengan mudah akan terjerumus pada tindakan yang bersifat otoriter, sangat patut kita renungkan. Di sinilah, pentingnya liberalisme sebagai sebuah strategi untuk menghadapi absolutisme dan totalitarianisme agama.

Liberalisme menginginkan kebebasan yang sebenarnya, maka cara satu-satunya adalah dengan membiarkan orang lain untuk memiliki kebebasan yang sama. Dengan demikian, ruang publik menjadi milik semua orang, tidak diklaim oleh sebuah agama atau sistem nilai tertentu. Demokrasi adalah cara bagaimana kita mengelola konflik yang terjadi dalam masyarakat yang majemuk. Jadi prinsip besarnya adalah—meminjam istilah Ihsan Ali-Fauzi—bahwa agama jangan diistimewakan hanya karena dia agama, tetapi juga jangan segera dicurigai dengan alasan yang sama, yakni karena dia agama.
Oleh karena itu, perilaku tidak adil dan diskriminatif yang dilakukan oleh Negara terhadap kelompok agama tertentu merupakan pelanggaran hak asasi manusia, baik yang bersifat vertikal yang dilakukan pemerintah terhadap warga negara atau secara horizontal antara warga negara itu sendiri. Lontaran Abdullahi Ahmad An-Naim bahwa hukum sekular sebagai keniscayaan masyarakat Islam membangunkan kita sebagai muslim. Keniscayaan masyarakat Islam hidup dibawah negara berstatuskan sekular-liberal sebagaimana kata An-Naiem bukanlah fenomena baru.

Dalam rentang sejarah Islam: dari periode Islam-awal masa Nabi Muhammad, masa keempat Khalifah Rashidin, Masa dinasti Umayyah, Masa dinasti Abbasiyyah sampai masa dinasti Utsmaniyah dipenghujung abad ke-20 semuanya mengacu pada tatanan sekular. Sebuah sistem pemerintahan lahir dari usaha negosiasi, bagaimana seharusnya sistem pemerintahan dibentuk, sama-sekali jauh dari intervensi agama Islam (Islamic Law). Sekularisme dipandang sebagai sikap spirit dalam pergulatan meraih kebenaran. Hukum sekular mampu mensinergikan antara agama dan negara sebagai cita-cita bersama.

Sekularisasi adalah ketegangan yang terus-menerus untuk terlibat di dalam dunia realitas dan yang membantu kita menyebarluaskan apa yang kita yakini sebagai benar di ranah sosial. Dengan demikian problem sekularisasi menjadi terbuka bagi semua orang. Sekularisasi bagi seorang muslim merupakan perangkat yang dapat menyelamatkan ajaran Islam yang turun ke bumi untuk kesejahteraan umat manusia sendiri.

Al-Andalus, Penaklukan, Perkembangan Dan Kejatuhan

Moh. Shofan


ANDALUSIA, daerah sebelah Selatan Spanyol—seperti yang baru saja kita lihat dalam film An Islamic History of Europe—memiliki gedung-gedung luar biasa indah untuk dikunjungi. Gedung-gedung cantik ini adalah perpaduan arsitektur Arab dan Kristen yang kental. Maklumlah, Spanyol pernah berada di bawah ajaran Katolik, kemudian dikuasai negeri Arab, hingga diambil alih lagi oleh Katolik. Selain bagunan masjid dan gereja, ada Alhambra, nama sebuah kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan bani ummayyah di Granada, Spanyol. Alhambra ini adalah simbolnya kota Granada. Alhambra ini dibangun pada masa pemerintahan dinasti Nasrid yakni pertengahan abad XIV, ketika Islam lagi dalam masa jaya-jayanya di Andalusia. Granada sebagai salah satu pusat budaya dan kota wisata terindah di Spain.
Vision of Al-Andalus salah satu tulisan Maria Rosa Menocal—seorang profesor bahasa Spanyol dan Portugis, Universitas Yale—dalam The Literature of Al-Andalus, (edited by María Rosa Menocal, Raymond P. Scheindlin, and Michael Sells) bukanlah tulisan yang mendeskripsikan detil-detil kemegahan peradaban Islam dengan panjang lebar. Tetapi, Maria memilih untuk lebih banyak bercerita tentang interaksi antara masyarakat Muslim, Yahudi dan Kristen di salah satu pusat peradaban Islam ketika itu: Andalusia. Tentang bagaimana Islam tumbuh dalam sebuah tatanan masyarakat yang majemuk, juga bagaimana Andalusia jadi potongan sejarah yang pantas dipelajari.
Di samping Vision of Al-Andalus, Maria juga menulis buku Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain. Sebuah karya besar yang disampaikan dalam tutur kisah yang mirip dengan novel bersambung. Pujian berhamburan atas karya ini. Karya ini menjadi panduan utama bagaimana melihat Islam di Spanyol. Masa keemasan yang telah membawa Islam sebagai ajaran yang terbuka, toleran dan melindungi minoritas. Masa gemilang yang membawa Islam dalam budaya pengetahuan yang mengagumkan sekaligus memengaruhi abad-abad berikutnya. Ini adalah pintu di mana Eropa menemukan kekayaan pengetahuan sebenarnya.
Semangat yang kini menjadi penting untuk dihidupkan kembali dan menjadi relevan untuk ditengok. Setelah banyak kecaman, tuduhan bahkan segala bentuk kesangsian atas Islam. Juga perlu dilihat setelah banyak gerakan Islam yang selalu membaca dan menempatkan masa lampau hanya dalam sudut pandang ’syariah’ dan ’khilafah’. Masa lampau ternyata lebih kaya ketimbang itu. Andalusia membuktikan masa lampau yang toleran, maju, terbuka dan penuh dengan karya-karya agung—saya akan uraikan seperlunya saja dalam paragraf-paragraf berikutnya.
Tulisan ini—berdasarkan uraian Maria dalam kedua buku tersebut—tidak dimaksudkan untuk mengkaji pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh cendekiawan Muslim, Kristen maupun Yahudi di Andalusia. Tetapi lebih bertujuan menceritakan bagaimana pemikiran tersebut dapat hidup rukun, saling mengisi dan berkembang. Cerita ini dibangun dengan mengisahkan kehidupan, pandangan, dan kenangan tokoh-tokoh pilihan Yahudi, Muslim dan Kristen akan tingginya peradaban di Andalusia. Sang penulis juga membangun kesimpulan tentang penyebab bangkit, berkembang, runtuh, dan menjalarnya peradaban Islam di Andalusia. Kesimpulan yang, sepertinya, dapat dipakai untuk pusat-pusat peradaban Islam yang lain.
Maria memulai kisah Andalusia dengan cerita pelarian Abd Al-Rahman. Abd Al-Rahman adalah satu-satunya pangeran Dinasti Umayyah yang selamat dari pembantaian Dinasti Abbasiyah pada 750 M di Rusafa, villa peristirahatan Keluarga Umayyah di dekat Damaskus (ibukota Umayyah). Penguasa baru Abbasiyah kemudian memindahkan ibukota kekhalifahan Islam ke Baghdad.
Abd Al-Rahman sendiri meneruskan pelariannya ke barat, hingga ke Semenanjung Iberia. Tanah ini kelak disebut Al-Andalus oleh orang-orang Arab, Sefarad oleh orang Yahudi, dan Hispania oleh orang-orang Kristen. Abd Al-Rahman datang ke tanah itu ketika suku bangsa Visigoth, yang berhasil merobohkan kekuasaan Romawi di sana, baru saja diusir oleh ekspedisi-ekspedisi awal tentara Islam dari Afrika Utara (yang paling awal dipimpin Thariq bin Ziyad).
Abd Al-Rahman kemudian mulai membangun propinsi paling barat kekhalifahan Islam ini, menghidupkan kembali kebesaran Umayyah sambil tetap mengakui kedaulatan Abbasiyah. Beliau membangun ibukota Umayyah yang baru, Kordoba (Qurthubah) dengan istana Madinah Az-Zahrah, yang dapat disetarakan dengan istana Versailles di Paris. Setelah menjadi pesaing kegemilangan Abbasiyah di Baghdad selama 200 tahun, barulah pada 950 M, Abd Al-Rahman III memproklamirkan Kordoba sebagai pusat pemerintahan Islam yang baru, menyusul doyongnya Dinasti Abbasiyah akibat proklamasi yang sama oleh kaum Syiah Fatimiyah di Tunisia.
Sebagaimana halnya Kaum Abbasiyah di Baghdad, Abd Al-Rahman dan khalifah-khalifah keturunannya di Kordoba sangat menghargai intelektualitas. Perdana Menteri Abd Al-Rahman III misalnya adalah Hasdai Ibn Shaprut, seorang Yahudi yang fasih berbahasa Arab, Latin, Ibrani dan Mozarabik (campuran Arab dan Spanyol). Hasdai inilah yang mengabarkan kegemilangan Kordoba sampai ke ujung utara Eropa, ke kekaisaran Romawi Suci di wilayah yang sekarang menjadi Jerman, bahkan terus ke Khazar (utara Asia). Bahkan setelah runtuhnya kekhalifahan Kordoba, para cendekiawan dan pahlawan Yahudi-Kristen tetap memegang peran kunci di taifah-taifah (city states) muslim yang saling bersaing menghidupkan kembali kejayaan Kordoba di Andalusia.
Tokoh-tokoh Yahudi-Kristen ini memiliki satu persamaan yang mencerminkan pandangan masyarakat non Muslim di Andalusia waktu itu: penguasaan dan kekaguman akan bahasa Arab, berikut bentuk-bentuk keindahan yang dibawanya. Bahasa Arab jauh melampaui kemampuan bahasa-bahasa yang ada di Andalusia waktu itu (bahasa Ibrani, Kastilia, Latin, dll.) dalam mengungkapkan cinta dan romantika kehidupan sehari-hari. Samuel Ibn Nagrilla bahkan terinspirasi untuk mengubah bahasa Ibrani yang semula hanya cocok untuk sembahyang Yahudi, menjadi mampu menjalin syair-syair cinta.
Lebih jauh lagi, kaum Muslim telah menerjemahkan, mengomentari dan mengembangkan khazanah pemikiran bangsa Yunani-Romawi dalam bahasa Arab. Lautan pengetahuan yang demikian luas itu, mau tidak mau mendorong mereka yang ingin meneguknya untuk mempelajari bahasa Arab. Kefasihan dan kecintaan akan bahasa Arab bukan hanya dimiliki kaum Yahudi-Kristen yang hidup dalam kekuasaan kekhalifahan Kordoba. Raja-raja Kastilia, salah satu kerajaan Kristen yang memusuhi Kordoba, pun diketahui sangat fasih berbahasa Arab. Di saat taifah-taifah di Andalusia satu per satu jatuh ke tangan Kastilia dan tentara Salib, proyek-proyek penerjemahan buku-buku berbahasa Arab ke bahasa Latin dimulai. Salah satu proyek terbesar yang dikepalai Kepala Pendeta Gereja Cluny dari Paris, Peter Yang Mulia, adalah penerjemahan Al-Qur’an.
Kekaguman akan bahasa Arab membawa kekaguman pada budaya dan cara hidup masyarakat Muslim Andalusia. Diceritakan bahwa bangsa Normandia Kristen yang menaklukkan Sisilia, salah satu pulau taifah Muslim, perlahan-lahan terarabkan. Bangsa Normandia yang kelak menaklukkan Kepulauan Inggris ini, menyanyi, menari, berpakaian dan makan masakan Arab.
Kelak bahasa Arab menjadi sarana transfer peradaban tersebut ke dalam masyarakat Kristen Eropa, yang bersiap-siap bangkit menggantikan Peradaban Islam. Transfer peradaban ini dijalankan lewat penerjemahan kepustakaan Arab yang mengembangkan khazanah peradaban Yunani-Romawi. Transfer peradaban tersebut hanya mungkin terjadi berkat toleransi bangsa Arab Muslim terhadap kaum Yahudi dan Kristen Spanyol di Andalusia. Kaum Muslimin mengizinkan mereka menduduki posisi-posisi penting, belajar dan berdialog bersama mengembangkan khazanah yang telah digali oleh Kaum Muslimin.

Penaklukkan
Andalusia diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Umat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Kemenangan yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Setelah Musa berjaya menakluk Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre. Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz Rahimahullah tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan.
Gelombang kedua terbesar dari penyerangan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Sepanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Itali. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu keadaan yang terdapat di dalam negeri Sepanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, keadaan sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terpecahi ke beberapa negeri kecil. Penguasa Gothic pula bersikap intoleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bahagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristian. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara kejam.
Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu kejayaan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri. Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Sepanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Sepanyol masih berada di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu keadaan yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya.Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

Perkembangan Peradaban
Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual. Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian membawa dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.
Kemajuan intelektual Al-Andalus bermula dari perseteruan intelektual antara Bani Umayyah yang menguasai Al-Andalus, dengan Bani Abbasiyah yang berkuasa di Timur Tengah. Penguasa Umayyah berusaha memperbanyak perpustakaan dan lembaga pendidikan di kota-kota Al-Andalus seperti Kordoba, untuk mengalahkan ibukota Abbasiyah Baghdad. Walaupun Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah saling bersaing, kedua kekhalifahan ini mengizinkan perjalanan antara kedua kekhalifahan ini dengan bebas, yang membantu penyebaran dan pertukaran idea serta inovasi dari waktu ke waktu.
Pada abad ke-10, kota Kordoba memiliki 700 masjid, 60 000 istana, dan 70 perpustakaan, dan salah satu perpustakaan yang terbesar memiliki hingga 500 000 naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan terbesar di Eropah Kristian saat itu memiliki tak lebih dari 400 naskah, bahkan pada abad ke-14 Universiti Paris baru memiliki sekitar 2 000 buku. Perpustakaan, penyalin, penjual buku, pembuat kertas, dan sekolah-sekolah di seluruh Al-Andalus menerbitkan sebanyak 60 000 buku tiap tahunnya, termasuk risalah, puisi, polemik dan antologi. Sebagai perbandingan, Spanyol modern menerbitkan rata-rata 46.300 buku tiap tahunnya, menurut UNESCO.

Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari :

Komuniti-komuniti Arab (Utara dan Selatan)
Al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam)
Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara)
Al-Shaqalibah (tentara bayaran yang dijual Jerman kepada penguasa Islam)
Yahudi
Kristian Muzareb yang berbudaya Arab
Kristian yang masih menentang kehadiran Islam

Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastera, dan pembangunan fisik di Andalusia–Spanyol. Dengan adanya toleransi terhadap Yahudi di Al-Andalus, dan mundurnya pusat kebudayaan Yahudi di Babilonia, Al-Andalus menjadi pusat pemikiran-pemikiran intelektual Yahudi. Penulis-penulis seperti Judah Halevi (1086-1145) dan Dunash ben Labrat (920-990) memiliki sumbangan terhadap kehidupan Al-Andalus, dan lebih penting lagi memberikan sumbangan bagi perkembangan filosofi Yahudi. Puncak dari filsafat Yahudi adalah pemikir Yahudi asal Al-Andalus Maimonides (1135-1205), yang menerbitkan karya-karyanya di Maroko dan Mesir, karena menghindari dinasti Muwahidun yang berkuasa dengan keras di Al-Andalus. Ia mengarang buku Panduan bagi yang Bingung, dan memperbaharui hukum Yahudi, sehingga dijuluki “Musa baru” (nama depan Maimonides sendiri adalah Moses/Musa).

Falsafah
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat hebat dalam perbentangan sejarah Islam. Ia berperanan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap falsafah dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosufi diimport dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universiti-universitinya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam pada ketika itu. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang falsafah dalam Islam, Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan berhati-hati dalam menafsir masalah-masalah tentang keserasian falsafah dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah al- Mujtahid.

Sains
IImu-ilmu kedoktoran, muzik, matematik, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Dialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong moden yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedoktoran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bahagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediteranian dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) belayar sehingga Tanzania, Parsi, India, Samudra Pasai dan Cina. Ibn al-Khatib (1317-1374 M) menyusun Riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus falsafah sejarah. Semua sejarawan di atas tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika adalah sebahagian nama-nama besar dalam bidang sains.

Fiqih
Dalam bidang fiqh, Sepanyol Islam dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.

Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan suara, Sepanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan ketokohan al-Hasan Ibn Nafi yang digelar Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik lelaki maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.

Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa perantara dalam pemerintahan Islam di Sepanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan bukan Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menombor duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang pakar dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-’Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.

Kemunduran dan Kejatuhan Andalus
Setelah kematian Al-Hakam pada 976, situasi mulai memburuk bagi non-Muslim pada umumnya. Hampir 100 tahun berikutnya, pada 30 Desember 1066, peristiwa penganiayaan pertama terjadi ketika kaum Yahudi diusir dan ratusan keluarga dibunuh kerana tidak mau meninggalkan Granada, dan kerusuhan setelahnya menewaskan sekitar 3.000 orang. Saat terjadi kekerasan terhadap non-Muslim, banyak ilmuwan Yahudi dan bahkan Muslim yang meninggalkan daerah kekuasaan Muslim menuju Toledo, yang lebih memiliki toleransi dan telah dikuasai oleh pasukan Kristen.
Hutang budi masyarakat Eropa sangatlah besar pada Andalusia. Maria Rosa Menocal memberi gambaran:
...upaya masyarakat muslim selama dua abad untuk memahami dan mengadaptasi alam pikiran Yunani telah mengintegrasikan kembali pandangan dunia zaman klasik yang vital menjadi suatu kebudayaan yang hidup. Karya-karya ilmuwan Andalusia mengandung visi dasar yang dapat dicirikan sebagai upaya pembelaan terhadap kebebasan manusia. Keduanya memusatkan pada paradoks-paradoks agar iman dan akal dapat berkembang dalam domainnya masing-masing. Bukan iman atau akal yang harus menempati posisi lebih tinggi satu sama lain (karena hal ini pasti akan bermuara pada penindasan yang satu atas yang lain), melainkan bahwa akal dan iman memililiki tempat kedudukanya sendiri yang tidak dapat diganggu gugat dan cukup luas di atas satu meja tempat keduanya secara bersama-sama dapat menikmati jamuan kebenaran...

Sebuah kalimat yang meluncur dari seorang yang terpesona pada keagungan Andalusia. Ilham akan kebebasan dan kerakusan pada pengetahuan. Sesuatu yang kini mulai redup, hilang dan ditanggalkan. Jejak itu kian dipangkas oleh keinginan untuk kembali pada kemurnian dengan menutup semua jejak pengaruh kemajuan. Andalusia tumbang karena gerakan pemurnian itu. Pasukan Muslim sendiri yang merontokkan kekuasaan Andalusia. Iklim sekuler dalam kehidupan intelektual Andalusia dinilai sebagai pengkhianatan. Mereka lebih memilih menegakkan kekuasaan tidak dengan pena melainkan pedang. Dinasti Murabitun yang pada awalnya adalah paguyuban militer mengembangkan kekuasaan dengan membuang jauh-jauh tradisi intelektual. Masa itulah buku karya Al Ghazali dibakar habis. Kaum Yahudi bukan dilindungi tapi dimusuhi. Malahan mereka menumbangkan banyak raja kecil Yahudi. Keadaan tanpa kendali dan intrik yang terjadi dimana-mana mempercepat akhir kekuasaan Andalusia.
Ujung kisah ini diakhiri dengan kemenangan total raja Kristen, Ferdinand yang menikahi Isabella dari Kastilia yang mengisyaratkan serangan terhadap Granada, yang direncanakan secara hati-hati dan didanai dengan baik. Ferdinand dan Isabella kemudian meyakinkan Paus Siktus IV untuk menyatakan perang mereka sebagai perang suci. Mereka mengalahkan satu persatu perlawanan umat Islam dan akhirnya pengepungan tersebut berakhir diwaktu Sultan Granada Muhammad Abu Abdullah (Boabdil) menyerahkan istana dan Kota Granada, Alhambra kepada kekuasaan Kristian, dan menandakan berakhirnya kekuasaan Islam di Iberia atau Andalusia.
Andalusia adalah kenangan agung. Mengajak kita untuk memahami betapa beratnya beban kebesaran. Kemajuan pengetahuan, budaya dan ekonomi tidak saja memerlukan kebebasan. Dibutuhkan kekuasaan yang menanggalkan etos fanastisme dan keinginan untuk menyingkirkan yang lain. Kombinasi fanatisme Islam yang diwakili oleh orang Berber dari Afrika Utara-yang kemudian jadi pendiri dinasti Murabitun-bersama dengan pasukan ’salib’ yang keji, tanpa toleransi membawa kepunahan Andalusia. Kekuasaan itu saja tak cukup. Disambung periode fanatisme yang menggebu. Yakni kehadiran kaum al Muwahid-yang meruntuhkan dinasti Murabitun dan sama fanatiknya-yang bersamaan dengan pengaruh Paus Innocent III yang menggunakan kebijakan tangan besi. Sempurna sudahlah fanatisme yang berbalut agama itu hadir. Pedang, agama dan orang tolol berkomplot bersama. Andalusia memberi pelajaran penting. Kebebasan ternyata memiliki musuhnya sendiri. Andalusia membenarkan dalil kalau fanatisme bisa menyembul tiba-tiba dan meluap begitu saja. Jika fanatisme kemudian merangkul kekuasaan maka yang bubar pertama kali adalah kemajuan pengetahuan. Dasar pengetahuan dianggap tak berguna dan kebebasan dikatakan sebagai kemunduran iman.


Tulisan ini dibuat sebagai bahan diskusi dan nonton film An Islamic History of Europe, 18 Agustus 2011 di Yayasan Paramadina

Senin, 03 Oktober 2011

QUO VADIS PEMIKIRAN ISLAM?


Moh. Shofan


Tulisan ini lebih merupakan kegelisahan akademik, utamanya menyangkut diskursus pemikiran Islam di Indonesia. Saya concern terhadap masa depan Islam. Karenanya saya menulis rancangan disertasi yang mengangkat pemikiran Kuntowijoyo—salah satu cendekiawan Islam neo-modernis—yang tidak banyak dikaji secara akademis, tentang metode strukturalisme transendental yang saya yakini mampu menjawab kebuntuan metodologi atau pendekatan dalam studi pemikiran Islam. Dimaksudkan juga sebagai fondasi perlindungan terhadap pengaruh dogmatisasi teks-teks Islam dalam pengertiannya yang rigid.
Menurut hemat saya, pemikiran Kunto sangat relevan di tengah pemahaman Islam yang secara ideologis berimplikasi pada pemahaman Islam yang tekstual-rigiditas-a historis. Ini adalah problem, sekaligus ujian dan tantangan bagi para pemikir Islam di Indonesia. Bagaimana tidak? Pertama, Islam sekarang ini berada dalam keadaan beku, karenanya perlu dicarikan jalan keluar. Kedua, Islam memerlukan reorientasi dan ke arah mana perubahan itu diarahkan.
“Kunci untuk kemajuan Islam adalah sekularisme, liberalisme dan pluralisme”, begitu kata M. Dawam Rahardjo—guru yang sangat saya hormati. Semangat Dawam dalam menggempur konservatisme, dogmatisme, fanatisisme, baik agama maupun ilmu pengetahuan, tentu layak mendapat apresiasi yang tinggi dari lingkungan akademik. Hanya saja, sepertinya Dawam lupa, bahwa menggempur dogma dengan semata-mata melalui sekularisme, liberalisme, dan pluralisme—bukannya saya tidak setuju dengan istilah-istilah itu, malah saya mendukungnya—dan menganggapnya sebagai solusi atas semua persoalan [budaya, politik, agama, ideologi maupun ekonomi] seraya mengabaikan pendekatan-pendekatan kritis lainnya [hermeneutika, fenomenologi, semiotika, filsafat, dan lain-lain] justru cukup mengkhawatirkan karena berpotensi memunculkan dogma dalam bentuk baru.
Kesadaran akan epistemologi—begitu saya menyebutnya—baik sebagai sistem nilai maupun sistem pengetahuan selain merupakan bagian dari filsafat sistematis, juga memerlukan riset mendalam, dan menjangkau permasalahan yang membentang luas seluas jangkauan nalar yang memang tak berbatas. Betapa tidak sederhananya, seperti membalik telapak tangan. Karya Kuhn The Structure of Scientific Revolutions, mempunyai arti penting, khususnya perihal paradigma, tidak saja karena keberhasilannya membentuk dan mengembangkan wacana intelektual baru dalam filsafat ilmu, tetapi juga kontribusi konseptual yang memberi insight dalam berbagai bidang disiplin intelektual dengan derajat sosialisasi dan popularitas yang jarang dapat ditandingi. Saya merasa at home dengan karya tersebut, karena mengundang sikap kritis terhadap disiplin keilmuan—apapun, termasuk filsafat dan pemikiran Islam. Di sinilah pentingnya memahami bahwa apa yang kita capai hari ini bisa gugur di kemudian hari.
Bila paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan penting atau malah mengakibatkan konflik, maka suatu paradigma baru harus diciptakan. Dengan demikian kegiatan ilmiah selanjutnya diarahkan kepada penemuan paradigma baru guna mendapatkan—meminjam istilah Kuhn—discovery [penemuan baru] dan invention [penciptaan baru] yang mana keduanya saling berhubungan erat dalam penemuan ilmiah.
Fenomena krisis keilmuan yang menimpa umat Islam saat ini, misalnya, kekerasan atas nama agama, dikotomi pendidikan [pendidikan agama versus pendidikan umum], meningkatnya kecenderungan kelompok islamis-ideologis yang tak jarang memberikan stigma teologis [kafir, murtad], seharusnya menjadi perhatian sangat serius, utamanya dari kalangan akademisi. Perlu ditegaskan di sini, bahwa dalam realitas sejarah tidak semua persoalan hidup manusia bisa dijawab dengan teks [termasuk teks agama sekalipun]. Setiap teks mempunyai banyak lapisan makna, yang dapat dibaca berbeda-beda oleh kepentingan yang berbeda, sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan pembacaan “dekonstruktif”—meminjam istilah Derrida—justru merangsang pemikiran-pemikiran agama yang kreatif. Dekonstruksi akan membawa konsekuensi serius pada ranah pemikiran, karena kecenderungan anti fondasionalisme yang tinggi.
Khaled Abou El Fadl (2005) misalnya, mengatakan bahwa fikih pada dasarnya bersifat otoriter. Akibatnya, tidak ada kritisisme. Di sana tidak ada gerakan pembebasan. Kondisi ini mungkin juga disebabkan oleh karena dunia Islam pada umumnya dijajah. Penjajahan itu mengakibatkan pembatasan kebebasan berpikir. Ada yang mengatakan hal itu disebabkan karena tasawuf yang cenderung anti-intelektualisme. Tasawuf memang punya banyak segi positif seperti adanya humanisme bahkan juga kebebasan berpikir. Tapi di samping itu, tasawuf menimbukan sifat-sifat anti-dunia, yang berujung kepada anti-kemajuan yang membelenggu kritisisme.
Islam sangat mendorong kemerdekaan dan kebebasan berpikir sebagai prasyarat bagi terciptanya sebuah peradaban yang utama. Karenanya siapa saja yang berpendapat bahwa Islam tidak mendorong kebebasan berpikir, sesungguhnya ia telah menelikung sejarah dan membajak Islam—sebagaimana sering dilakukan kelompok fundamentalis-konservatif. Para akademisi hendaknya juga berani berpikir jauh untuk membongkar warisan ijtihad lama yang mungkin sudah tidak relevan untuk memecahkan masalah kemanusiaan global sekarang ini. Jika Tuhan saja membebaskan seseorang untuk menjadi ateis, maka tidak ada hak bagi manusia untuk melarang ateisme. Kebebasan adalah kata-kata kunci bagi ide modernitas, dan merupakan benteng bagi keabsahannya.
Umar bin Khattab, adalah khalifah yang konon paling inspiratif [dibanding ketiga khalifah lainnya] dan tidak rigid dalam pengambilan hukum serta lebih menekankan semangat dan jiwa Al-Qur’an dan Sunnah ketimbang teks. Dalam ijtihad Umar misalnya, posisi akal menempati tempat yang utama sehingga ia dikenal sebagai pembawa mazhab ra’yi (akal). Dalam kasus-kasus ijtihad yang dilakukan Umar, secara lahiriah keluar dari teks, tetapi secara esensial justru berpegang teguh pada esensi Al-Qur’an. Inilah juga yang dilakukan oleh Arkoun, yakni melakukan apa yang disebutnya sebagai “kritik nalar Islami”, yaitu nalar Islami sebagaimana berkembang dan berfungsi pada periode tertentu dan masih memengaruhi serta menguasai dunia Islam hingga hari ini.
Lihatlah, betapa Barat dengan kelebihannya mampu menunjukkan kepada kita bagaimana menata kehidupan sosialnya jauh lebih baik dari umat Islam. Dan untuk menata kehidupan yang lebih baik, mereka tidak perlu repot-repot menerapkan syariat Islam atau merujuk kepada Kitab Al-Qur’an, atau Injil. Sejarah membuktikan, bahwa tidak sedikit pemikir-pemikir muslim yang bertolak ke Barat, ketika mencita-citakan sebuah masyarakat yang beradab, berkemajuan, serta berperadaban. Sebagai contoh, Ali Jinnah dan Mohammad Iqbal yang mendirikan negara Pakistan adalah tokoh modernis muslim par excellence, menjadikan Barat sebagai model yang tepat untuk mendapatkan ide-ide politiknya. Tantangan apa pun terhadap Islam sudah pasti juga tantangan bagi para pemeluknya. Tantangan paling penting yang harus dilakukan umat Islam adalah upaya untuk mengakhiri rasa takut dari intimidasi agama.
Untuk keperluan itu, maka kajian pemikiran Islam bisa menjadi salah satu strategi untuk melindungi masyarakat dari kekuatan pemimpin oportunis yang membajak umat dari formalisme Islam yang menghipnotis. Kajian pemikiran Islam yang mampu membuat orang merasa hadir pada ruang dan waktu tertentu. Sehubungan dengan ini, kajian pemikiran Islam harus diarahkan untuk mengartikulasikan strategi dalam menghadapi tantangan kehidupan, melihat masa depan dan menilai masa lampau. Kajian Islam di Indonesia dengan berbagai ragam coraknya, baik dari sisi pendekatan, tema, bentuk presentasi, dan bahkan juga ideologi mengandaikan bahwa Islam punya dinamikanya sendiri.
Kita bisa tidak setuju dalam berbagai level makna dan fungsi wacana, namun dalam semangat ilmiah dan kemanusiaan tidak ada alasan bagi kita untuk menghapuskannya, melarang-larang, terlebih dengan mengatasnamakan kebenaran agama yang diklaim hanya punya satu kebenaran, satu makna. Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan informasi seplural mungkin. Untuk mengkaji Islam, Al-Qur’an saja belumlah cukup tanpa menggunakan seperangkat metodologi yang memadai dalam menafsir al-Qur’an. Wallahu A’lam bi al-Shawab.


Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 01 Oktober 2011

Kamis, 22 September 2011

MENGHIDUPKAN NILAI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Moh. Shofan


“Demokrasi pendidikan harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman intelegensia [multiple-intellegences] manusia, yang meliputi kecerdasan linguistik, logik-matematik, spasial, musik, kinestetik, interpersonal dan intrapersonal”
[Gardner, 1993]

“Nilai tidak bisa diajarkan, tapi dikembangkan melalui pembelajaran”
[Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional]


Lee Kwan Yew saat tahun pertama menjabat Perdana Menteri Singapura, memprioritaskan membangun jiwa, mental, dan karakter warga negaranya. Setelah memasuki tahun kedua, ia membangun seribu WC umum seantero Singapura, lalu membeli seribu dompet yang diisi dengan ratusan dolar Singapura dan kemudian sengaja ditempatkan pada seribu WC umum tersebut. Ketika dicek satu hari setelahnya, seribu dompet itu masih utuh, demikian juga setelah dua hari masih belum ada yang bergeser dari tempatnya. Pada hari ketiga, satu dompet hilang, tetapi ditemukan di kantor polisi di mana isinya tak berkurang.
Sekitar delapan dekade yang lalu, Mohandas K. Gandhi [2009: 327] memperkirakan adanya ancaman yang mematikan dari tujuh dosa sosial, salah satunya adalah pendidikan tanpa karakter. Pendidikan merupakan karakter suatu bangsa. Semakin baik pendidikan suatu negara, semakin baik pula moral, ekonomi, dan budaya negara tersebut. Tulisan ini berangkat dari pertanyaan mendasar: Pendidikan karakter—suatu istilah yang belakangan banyak diperbincangkan oleh para pakar pendidikan—seperti apa yang dibutuhkan oleh manusia Indonesia? Di mana “Living Values Education” [LVE] di tengah wacana pendidikan karakter?
Pendidikan karakter bersifat luas dalam cakupan dan sulit didefinisikan secara tepat. Tetapi, yang dimaksud pendidikan karakter di sini adalah suatu istilah yang menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Pendidikan karakter meliputi beberapa area, seperti: “penalaran moral/pengembangan kognitif”; “pembelajaran sosial dan emosional”, “pendidikan/kebajikan moral”; “pendidikan keterampilan hidup”; “pendidikan kesehatan”; “pencegahan kekerasan”; “resolusi konflik”, dan “filsafat etik/moral”.
Pendidikan karakter menggarap pelbagai aspek dari pendidikan moral, pendidikan kewargaan, dan pengembangan karakter. Sifatnya yang multi-faceted membuatnya menjadi konsep yang sulit untuk diberikan di sekolah. Setiap komponen memberikan perbedaan tekanan tentang apa yang penting dan apa yang semestinya diajarkan. “Jika kita hendak maju secara budaya”, kata Rushworth Kidder—dari the Institute for Global Ethics, dan pengarang How Good People Make Tough Choices [1995]—“sepatutnya mesti ada satu bahasa lagi dalam wacana public, yang mempertanyakan, ‘apa yang benar’ [what’s right]?” Menurutnya, bahasa ini merupakan bahasa yang unik yang membuat kita tak terlalu nyaman membincangkannya. Dan untuk membuat kita nyaman berbincang dalam bahasa ini di masa depan, Kidder menekankan perlunya pendidikan karakter sejak dini.
Pendidikan karakter dapat dimulai dari ranah pendidikan formal mulai sejak usia dini. Mengucapkan terima kasih atau sekadar menyapa adalah bagian [latihan] dalam pendidikan karakter. Kelihatan sederhana memang, tetapi sekarang pun kita jarang menemukan orang yang rela berucap terima kasih atau sekadar menyapa dengan senyum. Pendidikan karakter tidak perlu harus dinilai secara kognitif. Desain pendidikan karakter seharusnya jauh dilepaskan dari unsur penilaian kognitif. Salah satu kegagalan pembentukan karakter saat ini karena terlalu mengkognitifkan nilai-nilai dalam pembentukan karakter.
Dalam pendidikan karakter, para siswa ini disiapkan untuk mampu menyikapi pilihan hidup dengan bijak. Namun, sekolah bukanlah satu-satunya tempat yang utama. Masih ada keluarga dan masyarakat. Rumah dan masyarakat mampu menjadi sahabat, tapi dapat pula menjadi penyekat apabila tidak ada empati yang dirasakan. Semua individu adalah pelaku pendidikan karakter. Dalam lingkungan sekolah, pendidikan karakter harus dimulai dari guru. Guru bukan hanya mengajarkan pelajaran karakter, tetapi guru harus mampu menempa dirinya agar berkarakter. Siswa bukan barang mati yang dapat diperdaya dengan berbagai contoh baik, tetapi guru tidak melakukan hal itu.
Pendidikan karakter mengedepankan contoh dan perilaku daripada ilustrasi angka yang mereduksi hakikat karakter sendiri. Materi pendidikan karakter dipahamkan melalui kegiatan belajar mengajar dalam metode, dan bukan ditagihkan melalui tes. Guru tidak lagi harus duduk di meja sambil membaca buku atau menikmati tontonan presentasi siswa. Guru harus mampu menjadi inspirator setiap siswa dalam belajar. Demikian juga, dalam mata pelajaran adalah sarana yang menjembatani antara guru dan siswa dalam berelasi. Guru tidak mungkin lepas dari materi pelajaran. Guru juga harus mampu mengembangkan materinya sehingga mampu melahirkan kebiasaan diskusi dan eksplorasi akademis.
Karakter dapat diolah melalui berbagai aktivitas yang didasari dengan sikap moral yang benar. Siswa harus diberikan kesempatan sebanyak mungkin untuk mengekspresikan dirinya. Hal ini penting untuk penyaluran emosional. Aktivitas belajar di kelas dengan jadwal yang ketat membuat siswa menjadi lemah kreasi. Kebiasaan nongkrong di luar sekolah terjadi karena tidak ada ruang ekspresi bagi siswa di sekolah. Anggapan yang muncul bahwa sekolah favorit adalah sekolah dengan kemampuan kognitif tinggi tidak sepenuhnya benar. Kognitif tinggi tanpa disertai karakter yang baik akan menghasilkan siswa dalam “cangkang-cangkang akademis” yang minus nurani. Saluran emosional sangat penting dalam ranah pendidikan karakter. Keuntungan lain dari ekspresi adalah mampu menghargai perbedaan orang lain atau kultur lain tanpa harus mengerutkan dahi.
Melatih siswa berpikir kritis sangat penting adalah bagian selanjutnya. Berpikir kritis akan menghasilkan sikap keberpihakan. Hal ini dapat dilakukan dengan berdiskusi atau berdebat di kelas. Berpikir kritis dengan model debat untuk melatih siswa mampu mendengarkan argumen atau opini orang lain. Debat bukan melatih siswa asal berpendapat, tetapi memberi kesempatan saling mencermati. Sayangnya, kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini, meskipun ada pelajaran pancasila, kewarganegaraan, akhlaq dan semisalnya, tapi itu masih sebatas wacana dan tidak dalam tataran aplikatif.
Menurut pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966)—seorang pencetus pendidikan karakter—ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.

Model Teoritis Living Values Education

Living Values Education—selanjutnya disebut LVE saja—adalah program pendidikan yang menawarkan pelatihan dan metodologi praktis bagi para pendidik, fasilitator, pekerja sosial, orang tua dan pendamping anak untuk membantu mereka menyediakan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda menggali serta mengembangkan nilai-nilai universal. Program pendidikan nilai ini juga berlanjut sampai tahap bagaimana anak-anak dan orang muda dapat mengasosiasikan nilai tersebut dalam ketrampilan sosial-emosional dan intrapersonal-interpersonal mereka sehari-hari. Salah satu proses mendasar dalam program pelatihan LVE adalah tiap pendidik juga diajak untuk merefleksikan dan menggali nilai pribadi mereka, agar dapat menjadi pondasi dalam menciptakan suasana belajar yang berbasis nilai. [www.livingvaluesindonesia.org]
Kurikulum LVE mencakup berbagai aktivitas bermuatan nilai untuk damai, menghargai, kasih sayang, kerjasama, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati,tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, kebebasan dan persatuan. LVE menekankan pentingnya dalam menggali nilai-nilai positif tersebut. Maka, pendidikan menghidupkan nilai sangat menyokong penggunaan berbagai aktifitas yang tersedia dalam buku-buku aktifitas pendidikan nilai.
Dalam LVE ada aktifitas membayangkan dan merefleksikan, di mana peserta diajak untuk menciptakan ide atau gagasan mereka sendiri. Peserta diminta untuk membayangkan sebuah dunia yang penuh kedamaian. Melakukan visualisasi terhadap dunia yang ingin digali, sehingga peserta memiliki kesempatan untuk menciptakan pengalaman mereka sendiri, memikirkan ide dan gagasan mereka sendiri.
Siswa juga diajak menghidupkan nilai dengan cara menggunakan permainan, situasi nyata, berita atau persoalan tertentu dalam kegiatan belajarnya. Mereka juga diajak untuk mendiskusikan dengan terbuka, penuh rasa hormat dan saling menghargai, terhadap persoalan-persoalan kehidupan yang menuntut segera bagaimana cara menyelesaiakannya—tentu saja dengan cara yang bermuatan nilai. Diskusi juga dapat mengarah kepada kegiatan mind mapping tentang nilai dan anti nilai. Metode ini, sangat bermanfaat untuk melihat lebih jauh dampak yang ditimbulkan oleh nilai dan anti nilai pada diri sendiri. Dengan demikian, membangun suasana bermuatan nilai dalam kegiatan LVE tentu menjadi suatu keharusan.
Dikatakan dalam LVE, bahwa dorongan positif akan meningkatkan sikap positif. Pun demikian juga sebaliknya. Karenanya, penting bagi guru menciptakan peluang bagi anak melakukan “sesuatu yang baik” agar dapat diberi dorongan positif, misalnya pujian. Kebutuhan dasar setiap orang termasuk siswa adalah untuk diterima, dihargai, dipahami, dan merasa bernilai. Maka bila kita memperlakukan seseorang secara positif dengan penuh penghargaan, sudah pasti siswa dibantu mengalami nilai diterima dan dihargai. Perasaan inilah yang mendorong kemampuan pengembangan seseorang untuk lebih kreatif dan berani mengambil inisiatif. Sebaliknya, bila kebutuhan ini (bernilai, dihargai, dipahami, dicintai, dan lain-lain) tidak terpenuhi maka akan timbul banyak masalah dalam hidup kita.
Salah satu bentuk simulasi yang tepat untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut adalah mendengar aktif. Hal yang paling penting dalam mendengar aktif adalah sikap yang memperhatikan, respon terhadap komunikasi non-verbal. Mendengar aktif adalah alat yang efektif untuk merefleksikan isi pembicaraan, mendengar dengan tulus. Dalam mendengar aktif, memberikan respon reflektif adalah salah satu keterampilan yang penting dimiliki oleh pendengar aktif. Merefleksikan isi dari apa yang dikatakannya dan menyatakan kembali kepada yang berbicara dengan cara lebih singkat dan jelas merupakan poin penting yang harus dimiliki oleh pendengar aktif. Hal itu penting karena, ingin memastikan bahwa pendengar aktif memahami dengan benar, memastikan kembali bahwa si pendengar menaruh perhatian, dan tidak kalah penting adalah menarik benang merah permasalahan: bisa membuat hal itu lebih jelas untuk pendengar dan yang berbicara.
Mendengar aktif tidak akan berfungsi dengan baik manakala, jika dalam perjalanannya muncul tuduhan, menasihati, menyalahkan, merendahkan, menghakimi dan lain-lain. Oleh karenanya, dalam kaitannya dengan tugas seorang guru, nilai kebutuhan dasar ini harus diprioritaskan. Banyak hal yang terungkap dalam pelatihan Living Values, mulai dari bagaimana proses pembentukkan nilai sampai bagaimana menggali dan mengembangkan potensi anak didik. Semua itu dimaksudkan untuk mengintegrasikan nilai-nilai dalam kehidupan.
Mengapa kesadaran nilai penting? Kapan kesadaran nilai muncul? Pemikiran dibalik pertanyaan ini mengajak semua orang untuk mengingat kembali: siapa diri saya? Apa yang saya lakukan hari ini? Adakah saya hari ini lebih baik dari kemarin? Dari sini bisa memperluas nilai-nilai yang lain. Dan tentu saja, nilai disesuaikan dengan faktor kultural. Pada intinya kita bertanggungjawab untuk nilai sendiri. Jika ada nilai yang bermasalah dengan orang lain? Kita harus bertanya apakah nilai orang yang salah atau diri kita yang bermasalah dengan nilai kita sendiri. Pada prinsipnya LVE sangat menyesuaikan dengan kondisi di lingkungannya. LVE sangat menghormati dan menghargai situasi lokal.
Materi apa yang dirasakan penting dalam menggali nilai? Ada dua hal yang terjadi, pertama peserta mengekplorasi pengalaman positifnya dan kedua mengeksplorasi pengalaman negatifnya. Sikap yang muncul adalah sangat ekpresif. Pertanyaannya adalah bagaimana mengahadapi orang yang sangat ekpresif tersebut? berempati dan mendengarkan aktif, atau memberikan dorongan positif, memberikan rasa nyaman.
Secara umum semua orang punya cara untuk berpikir dan merasakan kualitas positif. Siswa diajak merenungkan kualitas positif dalam dirinya dan diingatkan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajak menimbang nilai-nilai dalam dirinya, anak-anak belajar hidup dari lingkungannya, tidak hanya di sekolah. Siswa harus tahu alasan-alasan melakukan tindakan, dan menyatukan apa yang ada di kepala dengan di hati dan tubuh untuk melakukan tindakan.
Siswa diajak dengan mengingat kembali masa kecil dan kemudian melihat lagi masa sekarang. Sejauh mana nilai-nilai masa kecil itu masih dianggap penting sampai sekarang? Lalu, dari sini tanyakan siapa orang yang paling berpengaruh, moment /kejadian yang menjadikan bernilai. Tanyakan pula nilai apa yang ada padanya. Siswa akan bisa tumbuh berkembang dalam suasana bermuatan nilai di lingkungan positif dan aman. Dalam LVE ada aktifitas menggambar. Tujuan menggambar untuk memberikan gagasan serta mewujudkan dalam gambar itu nilai apa yang telah didapatkan serta memberikan kebebasan kepada pikiran. Yang penting tahu apa tujuan menggambar, karena dengan begitu bisa menguatkan kembali perasaan.
Dan, yang tak kalah penting dalam LVE adalah “hening”, satu menit, dua menit di pagi hari atau malam hari. Hening berguna untuk menetralkan emosi. Untuk menetralkan pikiran. Hening merupakan bagian disiplin untuk mencintai diri sendiri. Yang penting adalah, apakah kita sudah memberikan damai, respec, dan damai untuk diri sendiri. Kenapa mesti harus berbicara dengan diri sendiri? Berbicara pada diri sendiri secara negatif atau positif, maka itulah yang anda lakukan terhadap orang lain. Sementara berkaitan dengan refleksi, visualisasi sangat berhubungan sekali dengan otak kanan. Otak kanan sangat berperan sekali terhadap afeksi dalam diri kita, yakni: menyeimbangkan antara otak kanan dengan otak kiri. Otak kanan memproses bagian alam bawah sadar kita.
Ada hal yang kadang tak kita sadari, dalam pelatihan LVE. Kadang-kadang kita juga menjadi larut dengan pengalaman siswa. Dalam kondisi seperti ini, jangan sampai simpati kita menjadi berlebihan, larut dengan problem yang dialami oleh peserta. Dalam LVE, emosi begitu penting, karena emosilah yang bisa menggerakkan hidup kita, memberikan dorongan-dorongan. Dan yang penting adalah emosi memberikan sesuatu yang kita butuhkan. Kalau kita tidak mendengar perasaan kita, kita akan mengalami gangguan psikologis, sehingga dalam kerja pun kita tidak bisa produktif.
Untuk menjadi pendidik yang dapat ditauladani dalam proses pendidikan karakter, cara sederhana dapat kita lakukan. Sebagai contoh, melalui musik sederhana, kita dapat menitipkan nilai-nilai karakter di dalamnya. Dalam hal ini, Aristoteles mengingatkan bahwa ”Music has a power of forming the character, and should therefore be introduced into the education of the young”. Musik mempunyai satu kekuatan dalam pembentukan, dan karena itu akan dapat diperkenalkan dalam pendidikan bagi anak-anak dan generasi muda.
Sangat dianjurkan bagi trainer dan guru, sebelum memberikan model teoritis sebaiknya mengalami dulu, sehingga memudahkan kita untuk melakukan pelatihan. Trainer sebaiknya juga menghindari model teoritis yang terlalu banyak, karena dikhawatirkan akan membingungkan mereka. Untuk hal yang terakhir ini biasanya bisa dilakukan di kalangan kampus.
Dalam LVE kita harus menggali sebanyak mungkin pengalaman dari mereka, meskipun terkadang juga ada pengetahuan yang mau kita sampaikan kepada mereka. Metode disiplin apa yang digunakan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, sangat mempengaruhi pola pikir siswa. Disiplin yang dibangun berdasarkan nilai-nilai kesepakatan, keterbukaan, kerjasama, kejujuran, akan berpengaruh positif pada siswa. Disiplin adalah to be consisten, practice the values, tolerance, cleanliness, honesty, actuality. Dalam membuat peraturan disiplin berbasis nilai, anak harus dilibatkan dalam membuat aturan, sehingga siswa juga belajar bertanggungjawab pada diri sendiri dan orang lain.
Mendisiplinkan siswa merupakan usaha yang terus menerus. Orang tua harus sabar dalam menggali sifat disiplin ini pada anaknya. Untuk membuat penerapan disiplin ini mengena pada siswa dan agar efeknya berlangsung selamanya, maka hal berikut penting diperhatikan: Konsisten dalam memutuskan sesuatu atau mengatakan sesuatu. Menetapkan aturan-aturan terpenting dan konsekuensinya akan membuat siswa terbiasa dengan prinsip dan nilai-nilai. Kedua, hindari perkataan yang mencela anak. Seringkali keinginan untuk mencela dilakukan orang tua tanpa di sadari. Seakan komentar itu sudah otomatis keluar jika mendengar hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Memberi julukan jelek juga tidak diperbolehkan karena semakin sering kita memberinya julukan maka semakin ia menyadari bahwa julukan itu benar adanya. Dan julukan ini akan menetap di diri anak untuk waktu yang sangat lama.
LVE berada antara nilai disiplin dan kebebasan. Di mana LVE dalam teori-teori nilai? Jika terlalu dispilin maka suasana si anak merasa di penjara, tetapi jika terlalu bebas maka yang terjadi adalah anarkhisme. Maka LVE berada di antara titik tengah antara disiplin dan kebebasan. Di perancis titik tengah antara kebebasan dengan kesetaraan adalah persaudaraan. Liberty –Fraternity—egality. Disiplin adalah base on the values. Bagaiaman membedakan disiplin dengan punishment? Seringkali yang terjadi, baik di sekolah maupun di pesantren adalah jumping to congclusion karena tidak mau memikirkan alternatifnya, karena membutuhkan waktu, kesabaran, kearifan, dan alternatif. Hukuman dengan disiplin berbeda. Disiplin itu self awarnes, dibutuhkan perjalanan yang panjang untuk menemukan nilai.
Dalam disiplin ada ruang untuk mengembangkan diri. Jika si anak yang diberikan hukuman menerima sebagai proses pembelajaran, dan si anak mau melakukan dalam proses belajar maka ini baik. Apapun perbuatannya dan tindakannya jika dilakukan dengan cinta dan si anak merasakan cinta dan melakukannya dengan cinta, maka itu tidak menjadi masalah. Tapi jika si anak tidak merasakan cinta dan kasih sayang di dalamnya, malah sebaliknya tertekan, takut, maka dampaknya pasti tidak baik. Karenanya, penting bagi guru menciptakan peluang bagi anak melakukan “sesuatu yang baik” agar dapat diberi dorongan positif, misalnya pujian. Kebutuhan dasar setiap orang termasuk peserta didik adalah untuk diterima, dihargai, dipahami, dan merasa bernilai. Maka bila kita memperlakukan seseorang secara positif dengan penuh penghargaan, sudah pasti peserta didik dibantu mengalami nilai diterima dan dihargai. Perasaan inilah yang mendorong kemampuan pengembangan seseorang untuk lebih kreatif dan berani mengambil inisiatif.
Sekali lagi, penerapan nilai-nilai yang positif akan sangat membantu anak dalam menghadapi tantangan di kemudian hari. Namun terkadang perilaku anak yang bagi orang tua sangat tak biasa, membuat orang tua merasa kewalahan dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi mereka. Usia anak yang masih sangat muda membuat orang tua bingung harus memulai dari mana dalam mendidik anak. Padahal dunia anak yang sangat dinamis membutuhkan peran serta orang tua yang sangat serius.
Sebagai guru/orang tua, kita harus kembali pada sumber lingkungannya, apa yang mesti boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Kita harus libatkan anak untuk membuat peraturan, dan sampaikan hal-hal yang positif kepadanya, misalkan: Terimakasih sudah mendengarkan, terimakasih sudah tepat waktu. Jika masih ditemukan banyak pelanggaran, sebaiknya anak diajak bicara kembali mengenai peraturan itu: mengapa dilanggar? Berikan pada anak waktu untuk mengemukakan alasan-alasannya mengapa ia melakukan seperti itu. Itulah sebabnya, mengapa dalam LVE, anak-anak tidak butuh bantuan, yang butuh bantuan adalah orang dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa (guru) harus terlebih dahulu mengikuti training LVE.

Nilai yang paling utama dalam LVE
Tiga nilai utama dalam LVE—dari dua belas nilai: perdamaian, penghargaan, kasih sayang, toleransi, kerjasama, tanggungjawab, kesederhanaan, keikhlasan, kebahagiaan, kejujuran, kebebasan, dan persatuan—adalah perdamaian, penghargaan dan cinta. Setelah itu memberikan pengalaman pada peserta dan mengusahakan peserta mengalami adalah faktor terpenting dalam keseluruhan aktifitas LVE. Khusus bagi guru Sekolah Dasar, menurut harus diberi alokasi waktu lebih dengan asumsi penerapan LVE pada anak-anak membutuhkan waktu yang lama. LVE membutuhkan keterampilan dan kreatifitas guru mengingat LVE adalah media untuk menggali secara metodis bagaimana pengalaman anak mampu menginternalisasi pada dirinya dan membentuk kesadaran nilai, sehingga ketika eksternalisasi keluar, nilai-nilai itu dapat mempengaruhi lingkungannya secara positif.
Kedamaian adalah nilai dasar yang penting dalam teori LVE. Setiap fasilitator harus memulai dari Peace-respect and love. Nilai dasarnya adalah damai, cinta, dan respect. Dalam kebudayaan manapun tiga nilai ini menjadi dasar. Setelah itu kalaupun disesuaikan tidak masalah. Kenapa peace, respect, dan love? Karena ini sudah menjadi pertimbangan mendalam dalam LVE. Memang ada suatu kasus tidak bisa dimulai dari peace, karena kedamaian dianggap sesuatu yang asing dari luar, seperti di Maluku. Maka bisa dimulai dari respect. Begitu juga dengan nilai yang lain. Kebebasan, misalnya, di pesantren dianggapnya menjadi bagian dari kebebasan dalam pengertian lain, dan bukan kebebasan yang dikehendaki oleh si anak/peserta dalam lingkungan sekolah/belajar. Kebebasan di sini adalah bahwa kita membutuhkan kebebasan berbicara, berkumpul, berorganisasi.
“I will commited to process”, kata Kana Gopal—Trainer senior LVE di Singapura. Seorang trainer/guru harus belajar terus menerus, dan bertanya tentang diri sendiri. Yang paling penting adalah maukah terus belajar untuk menjadi yang terbaik. Sebagai guru/trainer tidak mesti harus tahu semuanya. Kalau tidak tau jawabannya, trainer/guru tidak perlu takut dan berkecil hati.
Banyak hal yang terungkap dalam LVE, mulai dari bagaimana proses pembentukkan nilai sampai bagaimana menggali dan mengembangkan potensi anak didik. Potensi yang dimaksudkan di sini berupa kognitif (kemampuan berpikir), afektif (kemampuan merasakan), dan psikomotor (kemampuan ketrampilan). Ketiga potensi itu berkembang dan membentuk kebiasaan, sifat, sikap, dan kepribadian seseorang dalam hidupnya. Penggalian nilai yang sejatinya sudah ada pada diri siswa/anak, menurut pandangan LVE sangat penting untuk pembentukan karakter masyarakat. Di sinilah peranan pendidikan menghidupkan nilai menunjukkan begitu pentingnya.
Dengan pendekatan LVE, banyak capai-capaian yang dapat kita sebut, beberapa diantaranya: menempatkan secara proporsional dan seimbang antara nalar kognitif, afektif dan psikomotorik. Melalui kegiatan LVE, proses belajar-mengajar tidak menempatkan siswa sebagai objek, tetapi menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, sehingga siswa mampu mengapresiasikan pengalaman dengan mendiskusikan materi pembelajaran secara bebas dan cerdas. Memberikan penghargaan kepada siswa serta berbagai apresiasi dan nilai-nilai positif lainnya sebagai dorongan untuk menumbuhkan nilai-nilai kepribadian (karakter) yang ada pada diri siswa. Menghindari sejauh mungkin perubahan pendekatan pelajaran yang tidak manusiawi (dehumanisasi) menuju pembelajaran yang memanusiakan manusia (humanisasi). Hal ini penting diperhatikan oleh para pendidik mengingat masih banyak di lingkungan sekolah maupun di pesantren model-model pembelajaran yang hanya menjadikan siswa atau santri sebagai objek pembelajar an-sich.

Potret Buram Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, maraknya tindak kekerasan atas nama agama, ideologi, kekuasaan dan lainnya, yang terjadi akhir-akhir ini tidak dapat dilepaskan dari peranan pendidikan. Pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan. Berbagai isu sosial Isu mengenai radikalisme masyarakat sudah begitu merebak hingga memunculkan pemakluman.
Hasil penelitian LaKIP [Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian]—Paramadina ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini—menunjukkan tingginya tingkat kecenderungan guru pendidikan agama Islam (PAI) dan siswa SMP-SMA beragama Islam di Jabodetabek terhadap intoleransi. Kecenderungan radikalisme, kekerasan, dan intoleransi menyelimuti guru pendidikan agama Islam (PAI) dan siswa SMP-SMA di Jabodetabek.
Kecenderungan itu terungkap dalam survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang dilakukan pada Oktober 2010-Januari 2011, melibatkan 590 dari total 2.639 guru PAI dan 993 siswa beragama Islam dari jumlah 611.678 murid sekolah menengah di Jabodetabek sebagai responden. Hasilnya mengagetkan. Menyangkut toleransi, misalnya, 62,7% responden guru PAI keberatan non-muslim membangun tempat ibadah di lingkungan tempat tinggal mereka, sedangkan siswa yang keberatan 40,7%. Saat ditanya jika non-muslim menjadi kepala sekolah, 57,2% guru dan 45,2% siswa tidak setuju. Hasil survei juga menunjukkan tingkat dukungan terhadap aksi kekerasan cukup tinggi. Begitu juga tingkat kesediaan mereka terlibat dalam aksi kekerasan terkait isu agama. [Media Indonesia, 27 Februari 2011]
Temuan itu menunjukkan kegagalan guru agama dalam menumbuhkan sikap kebhinekaan. Perlu evaluasi metode perekrutan guru PAI di sekolah ataupun di pusat pendidikan guru PAI. Sikap dan gejala radikalisme pada siswa dan guru PAI mencerminkan corak konservatif dalam beragama. Akibatnya, muncul kecenderungan diskriminatif terhadap posisi wanita ketimbang pria dan aspirasi pemberlakuan hukum agama dalam konteks negara. Untuk mengikis budaya kekerasan terkait isu agama harus melibatkan upaya memperkuat sikap toleransi sekaligus mengubah cara pandang konservatif. Di sinilah perlu kiranya pendidikan karakter segera direalisasikan dengan paradigma humanis, bukan akademis semata.
Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti. Dengan demikian, proses pendidikan karakter, ataupun pendidikan akhlak dan karakter bangsa sudah tentu harus dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.
Dalam naskah akademik Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Kementerian Pendidikan Nasional telah merumuskan lebih banyak nilai-nilai karakter (18 nilai) yang akan dikembangkan kepada anak-anak dan generasi muda bangsa Indonesia. Nilai-nilai karakter tersebut adalah: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab. [www.mendiknas.com]
Kalau selama ini pendidikan di Indonesia kurang berhasil membentuk karakter bangsa, mungkin karena konsep yang keliru dan patut dievaluasi demi perbaikan. Beberapa negara memberikan contoh yang baik tentang pendidikan karakter. Di Inggris, puisi-puisi Shakespeare menjadi bacaan wajib sekolah dasar dalam rangka menanamkan tradisi etik dan kebudayaan masyarakat tersebut. Di Swedia, aneka spanduk dibentangkan di hari raya berisi kutipan dari karya-karya kesusastraan. Di Perancis, sastrawan agung menghuni pantheon; jejak-jejak singgahnya di beberapa tempat diberi tanda khusus. Dengan mengambil ikhtiar dari moralitas para pahlawanannya dan kesusatraannya bisa menjadi wahana persemaian nilai-nilai dan praktis moralitas yang efektif. [Tempo Interaktif, 01 Februari 2011]

Pengalaman Paramadina
Paramadina sepanjang tahun 2009 dan tahun 2010 sudah banyak melakukan pelatihan LVE di sejumlah tempat. Tahun 2009, Paramadina melakukan training LVE untuk dosen dan pengasuh AKPOL bertempat di Hotel Santika Bandung. Pelatihan LVE di lingkungan AKPOL membawa dampak sangat positif, mengingat model pendidikan yang diterapkan sangatlah otoriter. Tradisi kekerasan ini sedikit demi sedikit berubah, setelah mereka mengikuti training LVE yang lebih menekankan pada kesadaran nilai, baik pada individu maupun lingkungan pergaulan di sekitarnya. Kurangnya bangunan komunikasi diantara mereka membuat hubungan satu sama lainnya berjalan tanpa kesadaran, bahwa kualitas nilai dalam hidup kita akan berpengaruh atau mempengaruhi nilai yang diluar.
Sepanjang bulan Januari sampai Desember 2010, Paramadina melakukan workshop maupun seminar LVE baik di Jawa maupun Luar Jawa. Di Luar Jawa: Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Maluku, Poso, Makasar, Ternate, Banda Aceh. Sementara di Jawa: Bogor, Garut, Yogyakarta, Jakarta. Workshop dan seminar ini dilaksanakan di sejumlah tempat, baik di Pesantren, Sekolah, Perguruan Tinggi dan LSM yang concern terhadap pendidikan.
Paramadina sangat concern pada isu-isu aktual, seperti kemajemukan, demokrasi, civil society, termasuk pendidikan. Seperti disinggung di atas, merebaknya kasus kekerasan atas nama agama di masyarakat, tidak lepas dari tanggungjawab para pendidik. Pendidikan agama yang seharusnya diarahkan menjadi media penyadaran umat, pada kenyataannya sampai saat ini masih memelihara kesan eksklusifitas. Sehinggga, dengan begitu, masyarakat akan tumbuh pemahaman yang tidak inklusif. Harmonisasi agama-agama di tengah kehidupan masyarakat tidak dapat terwujud. Tertanamnya kesadaran seperti itu niscaya akan menghasilkan corak paradigma beragama yang rigid dan tidak toleran.
Untuk itu diperlukan adanya upaya-upaya untuk merubah paradigma pendidikan yang eksklusif menuju paradigma pendidikan agama yang toleran dan inklusif. Model pengajaran agama yang hanya menekankan kebenaran agamanya sendiri mau tidak mau harus ”dibongkar ulang”. Sebab cara pemahaman teologi yang ekslusif dan intoleran pada gilirannya akan dapat merusak harmonisasi agama-agama dan menghilangkan sikap untuk saling menghargai kebenaran dari agama lain. Guru-guru inilah yang seharusnya menjadi mediator pertama untuk menterjemahkan nilai-nilai toleransi kepada siswa, yang pada tahap selanjutnya juga ikut berperan aktif dalam mentransfomasikan kesadaran toleransi secara lebih intensif dan massif.
Kita harus memiliki sekolah-sekolah yang giat mengajarkan agama-agama di dunia dalam konteks bidang studi sosial atau sejarah. Kita membutuhkan pemimpin agama yang terlatih yang tidak hanya mampu menanamkan keyakinan yang dalam pada komunitasnya, namun juga terpelajar secara agama, dan melalui jalur pendidikan kita perlu mengadakan pelatihan-pelatihan bersama dengan melibatkan berbagai komunitas lintas agama dan etnis untuk saling mengenal, memahami dan membangun sikap saling menghargai berdasarkan pengakuan atas persamaan, kesetaraan, dan keadilan. Dan melalui pendidikan karakter dan LVE inilah, kita secara terus menerus harus membangun harmonisasi dan saling menghargai satu sama lain untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Wallahu A’lam bi al-Shawab.


Disampaikan pada acara seminar "Sosialisasi Living Values Education (LVE) dalam Rangka Penguatan Pendidikan Karakter Berbasiskan Nilai", Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, 31 Maret 2011

OBYEKTIFIKASI MAKNA PUASA

Moh. Shofan


Bulan Ramadlan menyapa kembali umat Islam. Umat Islam di seluruh dunia sekarang bersuka-cita menyambut bulan Ramadlan, yang kehadirannya selalu dinantikan setiap tahunnya. Bulan Ramadlan ini diyakini memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. Al-Qur’an memberi arahan, agar setiap pribadi, dalam bulan Ramadlan, mencari Laylat u ‘l Qadr (Malam Penentuan) yang dianugerahkan Tuhan khusus buat orang-orang yang beriman. Dalam al Qur’an disebutkan bahwa Allah menurunkan al Qur’an pada Laylat u ‘l Qadr yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Keistimewaan itulah yang membuat kaum Muslim menjadikan bulan Ramadlan sebagai wahana untuk beribadah kepada Tuhan. Setiap tahun, kegiatan religius di bulan Ramadlan sangatlah semarak. Tarawih dan buka bersama menjadi tradisi. Pengajian terdengar di mana-mana. Jamaah shalat tarawih membludak di masjid atau musalla, juga di kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Pengajian dan tadarus al-Qur’an tak pernah sepi. Mereka saling bertarung memanfaatkan momentum bulan Ramadan sebagai bulan amal.
Namun, menjalankan amalan-amalan ritual-individual saja belumlah cukup. Dalam al-Qur’an, surah al-Ma’un, diterangkan bahwa orang yang menjalankan shalat tapi dikatakan shalatnya lalai, karena tidak menjalankan dan mengindahkan pesan-pesan kemanusiaan yang terdapat dalam shalat. Hal yang sama berlaku pada ibadah puasa yang hanya berhenti pada tataran normatif-ritual saja, seraya mengabaikan dimensi kemanusiaan.
Mengutip Nurcholish Madjid (1997), kehidupan keagamaan yang semarak dengan sendirinya bernilai sangat positif, karena agama itu—sepanjang sejarah umat manusia—memang berfungsi sebagai “tempat simpanan makna” (repository of meaning). Tetapi, jika ia hanya (merupakan) suatu amalan keagamaan tidak disertai dengan usaha sungguh-sungguh sebagai wahana memahami makna hidup yang hakiki, maka agama menjadi hanya bersifat palliative, yaitu memberi hiburan palsu atau bersifat deceptive (menipu).
Masalah korupsi yang banyak menghiasi media, ketidaktegasan pemimpin Negara dalam menyelesaikan sejumlah masalah, melonjaknya angka kemiskinan dan jumlah pengangguran, seharusnya menjadi instropeksi kita bersama di bulan yang agung ini. Sungguh sangatlah ironis, jika Umat Islam hanya berpuas diri setelah melakukan puasa, namun masih juga melakukan kemungkaran sosial, seperti korupsi. Apalagi, yang dikorupsi adalah segala sesuatu yang menjadi hak-hak orang miskin. Mari kita dengungkan Ramadlan ini sebagai momen perang melawan korupsi, dan bertekad membersihkan diri dan negara ini dari penyakit-penyakit korupsi yang telah menyengsarakan rakyat.
Bukankah—secara normatif—al-Qur’an menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah mencapai derajat ketakwaan (QS, 2:183) ? Semakin tinggi ketakwaan seseorang, semakin tinggi derajat kemanusiaannya (Q 49:13) ? Ketakwaan yang dimaksud oleh Tuhan dalam firman-Nya, tentu saja, bukan hanya kesalehan ritual, yang hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga melahirkan kesalehan sosial, yang bermanfaat bagi sesamanya. Kesalehan ritual ini seharusnya dijadikan sebagai penggerak kesalehan sosial. Sebab takwa dalam konteks kehidupan sosial adalah aksi nyata berbuat kebajikan dalam makna yang tidak terbatas. Tidak sekadar khusyuk berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga diikuti dengan berbuat baik terhadap sesama. Kesalehan sosial mengandung makna, memiliki kepedulian untuk berhubungan secara harmonis dengan lingkungan sosial dan alam sekitar.
Muhammad mengajarkan bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak. Karenanya, puasa yang berhasil mencapai derajat ketakwaan, akan melahirkan sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kepedulian sosial, cinta kasih, dan toleransi. Sifat-sifat inilah yang membedakan sifat-sifat insani, dengan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat insani seperti ini tak akan membiarkan orang-orang yang terpinggirkan menderita kelaparan. Sifat-sifat insani seperti ini tak membiarkan para koruptor bergentayangan dan menikmati fasilitas Negara, serta tak memedulikan rakyat kecil. Sifat-sifat insani seperti ini tak membolehkan orang/kelompok mencaci-maki agama/aliran lain. Sifat-sifat insani seperti ini tak akan melakukan kekerasan, meskipun atas nama agama dan Tuhan.
Dalam kerangka seperti ini, puasa mengajarkan bahwa semua agama memiliki kedudukan yang sama untuk ikut menyumbangkan nilai-nilai moral-kemanusiaan yang harus dibangun untuk mewujudkan masyarakat yang toleran, menegakkan keadilan, menjunjung tinggi keseteraan dan persamaan hak yang merupakan ajaran semua agama. Kuntowijoyo (1993) pernah menawarkan bagaimana mengubah Islam dari cara berfikir subyektif ke obyektif. Dalam kerangka berfikir obyektif ini menurut Kunto, tidak perlu pertimbangan-pertimbangan teologis tentang benar salahnya agama lain. Paradigma Kunto ini terkenal dengan pendekatan “obyektifikasi”. Obyektifikasi yang dimaksudkan adalah eksternalisasi dari keyakinan agama yang tidak hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan dan kalangan komunitasnya, tetapi juga dirasakan agama lain sebagai sesuatu yang natural.
Memahami makna puasa dalam pengertian kontekstualnya sangatlah penting, apalagi kita hidup dalam suatu tatanan sosial yang penuh dehumanisasi: terorisme, korupsi, premanisme, kebodohan, penindasan, dan kemungkaran-kemungkaran sosial lainnya. Untuk menggapai cita-cita semacam itu memang tidak mudah dalam kehidupan keagamaan yang masih ritualistik-formalistik. Ibadah puasa yang bertujuan untuk meraih predikat takwa mesti dimaknai secara lebih mendalam, yakni takwa dalam makna spiritual dan sosial. Jika puasa dimaknai sekadar amalan keagamaan dan tidak disertai dengan usaha sungguh-sungguh sebagai wahana memahami makna hidup yang hakiki, maka—seperti dikatakan Nurcholish Madjid—agama menjadi hanya bersifat palliative, yaitu memberi hiburan palsu atau bersifat deceptive (menipu).

MEMBANGUN KEDAULATAN NALAR BERBASIS INTELEKTUALISME

Tantangan Pemikiran Islam Kini dan Esok


“Masa depan kemanusiaan tergantung pada adanya sikap kritis dewasa ini.”
-Max Horkheimer

Moh. Shofan

Dalam sebuah obrolan di kantor LSAF [Lembaga Studi Agama dan Filsafat] M. Dawam Rahardjo [Mas Dawam] menyampaikan kepada saya bahwa kajian keislaman sepanjang sejarahnya di Indonesia hingga kini boleh dibilang masih sangat miskin pemikiran, terutama jika dibandingkan dengan studi Islam yang telah dilakukan di Timur Tengah dan sejumlah Negara lain. Selain terbatas dari segi jumlah, karya-karya pemikiran Indonesia hanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia, sehingga berdampak pada terbatasnya jumlah pembaca. Belum lagi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia—bahkan di dunia—yaitu NU dan Muhammadiyah yang hanya bersifat lokal nasional, karenanya tidak mampu bersaing secara global. Pun demikian juga dengan pendidikan formal dalam ilmu-ilmu keislaman yang tampaknya masih hanya sebatas transfer pengetahuan dan belum atau tidak sama sekali memberi inspirasi untuk berpikir secara kritis dan kreatif. Dalam situasi seperti ini, menurut Dawam, amat sangat dimungkinkan seseorang setelah lulus dan mendapatkan gelar akademis, maka seseorang berhenti berpikir dan tidak lagi melahirkan karya pemikiran.
Berkebalikan pada dekade akhir 1960-an, di mana pemikiran Islam di Indonesia terfokus pada tema-tema modernisasi serta sejumlah implikasi yang ditimbulkannya. Pada masa itu terjadi apa yang disebut Nurcholish Madjid [Cak Nur] sebagai “gelombang intelektualisme Islam” di Indonesia. Munculnya gagasan pembaruan pemikiran Islam di tanah air pada dekade awal 1970-an adalah ide tentang modernitas. Demikian juga pada dekade 1980-an ditandai dengan maraknya diskusi dan seminar serta dialog-dialog pemikiran baik antar umat Islam maupun antar umat beragama, yang melibatkan pemikir-pemikir dan ilmuan baik Muslim maupun non-Muslim di pusat-pusat pendidikan tinggi dan kota-kota universitas di Indonesia. Di kalangan intra umat Islam, dialog yang intens, berlangsung antara Muhammadiyah dan NU—dua Ormas Islam terbesar di Indonesia—khususnya di lingkungan elit atau pun generasi mudanya. Fenomena-fenomena kultural dekade 1980-an, di kemudian hari sangat besar dampaknya bagi perkembangan dan masa depan Islam pada dekade 1990-an. Khusus dalam hal kebangkitan intelektualisme Islam yang ditandai dengan pesatnya penerbitan buku-buku agama dan kajian keislaman. [Fachry Ali dan Bahtiar Effendy: 1986]
Saya termasuk orang yang sangat mengedepankan optimisme keberagamaan di tanah air. Karenanya, era Cak Nur, bagi saya bukanlah satu angkatan yang lahir untuk menyudahi pembaruan. Pembaruan harus kita lakukan secara terus menerus. Pada periode selanjutnya, yakni pemikiran pasca Cak Nur, para penerusnya belum menemukan platform yang aplikatif bagi kehidupan Islam kontemporer Indonesia, jika tidak boleh disebut hanya sekadar melanjut dari gagasan-gagasan yang sudah dirintis oleh para pendahulunya. Dalam konteks inilah Cak Nur adalah living legend (legenda hidup) bagi gerakan pemikiran Islam Indonesia modern yang inklusivistik. Indonesia sepeninggal Cak Nur, masih carut marut, kalau dalam bahasa Jawanya, nggak karu-karuan—untuk menggambarkan betapa kompleksnya permasalahan kita. Para cendikiawan dan pemikirnya masih termarginalisasi, kalah populer dengan elit politik kita.
Dengan menyadari kompleksitas problematika kebangsaan Indonesia dewasa ini, epistemologi Cak Nur menjadi signifikan dalam menyelamatkan Indonesia sebagai negara bangsa. Nation adalah jiwa dan prinsip spriritual yang menjadi ikatan bersama, baik dalam kebersamaan maupun dalam pengorbanan. Benedict Anderson memaknainya sebagai imagined community, sebagai cikal bakal munculnya konspe nasionalisme. Suatu bangsa pada dasarnya merupakan suatu komunitas sosial-politik dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas sekaligus berkedaulatan. Dalam konteks itulah kontribusi pemikiran Cak Nur menjadi aktual dan signifikan serta pantas untuk ditindak lanjuti oleh kita-kita hari ini
Sayangnya, pemikiran Cak Nur yang brilian itu tidak selamanya dapat ”dibaca” apalagi ”ditafsir” oleh masyarakat kita secara lebih luas. Cak Nur adalah seorang pemikir brilian yang mencoba mengembangkan pemikiran Islam dari aspek dasarnya, yaitu dari aspek teologi dan etika, dan mencoba mengaitkan ajaran-ajaran dasar Islam itu dengan isu-isu lengkap. Emha Ainun Nadjib mengatakan “Cak Nur mengumandangkan Islam secara Indonesia dan mendendangkan Indonesia secara Islam. Ia juga menjelaskan kemodernan dan Islam sampai tak bisa dibedakan lagi”.
Keindoneslaan adalah keterbukaan kebudayaan. Dan itu pertama-tama adalah masalah “social learning”. Dengan cara itu kita pahami kebudayaan sebagai Wilayah transaksi sekuler yang selalu ada dalam kondisi “in the making”. Agama merupakan titik orientasi etis dalam pandangan kebudayaan Cak Nur. Tetapi bukan eksklusifismenya, melainkan fungsinya dalam memberi makna kehidupan, dan karena itu dimungkinkan untuk mengorganikkannya ke dalam pikiran kebudayaan. Sebenarnya fungsi agama di sini dapat juga digantikan oleh ajaran sosial lain, sejauh ajaran itu dapat “memberikan kejelasan tentang apa itu hidup”. Kita mungkin dapat membayangkan nilai-nilai “demokrasi”, “keadilan sosial”, ”pluralisme”, “feminisme” atau bahkan “liberalisme” dan “sekularisme” sebagai kategori-¬kategori spiritualitas yang sejajar dengan “agama” dalam fungsinya untuk “memberikan kejelasan tentang apa itu hidup”.
Dalam sebuah epilog yang saya tulis untuk buku Mas Dawam “Kritik Nalar Islam, Kebangkitan dan Pencerahan”, saya mengatakan bahwa kompleksitas permasalahan di Indonesia, seperti menguatnya konservatisme, dogmatisme, fanatisisme, baik agama maupun ilmu pengetahuan, belum lagi masalah kemiskinan, ketidakadilan, meningkatnya angka pengangguran, demoralisasi politik, dan lain sebagainya, tidak bisa digempur dengan cara yang sama, yakni hanya dengan menggunakan paradigm sekularisme, liberalisme, maupun pluralism an sich—sebagaimana dianjurkan oleh Dawam. Saya setuju dengan istilah-istilah itu, namun, dengan mengabaikan pendekatan-pendekatan kritis lainnya seperti hermeneutika, fenomenologi, semiotika, filsafat dan lainnya, saya khawatir akan memunculkan dogma dalam bentuk baru.
Jadi, betapa tidak sederhananya, seperti membalikkan telapak tangan. Karya Kuhn The Structure of Scientific Revolutions, mempunyai arti penting, tidak saja karena keberhasilannya membentuk dan mengembangkan wacana intelektual baru dalam filsafat ilmu, tetapi juga kontribusi konseptual yang memberi insight dalam berbagai bidang disiplin intelektual dengan derajat sosialisasi dan popularitas yang jarang dapat ditandingi. Saya merasa at home dengan karya tersebut, karena mengundang sikap kritis terhadap disiplin keilmuan—apapun, termasuk filsafat dan pemikiran Islam. Di sinilah pentingnya memahami bahwa apa yang kita capai hari ini bisa gugur di kemudian hari.
Terjadinya perubahan-perubahan mendalam selama sejarah ilmu justru tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah satu teori atau sistem, melainkan terjadi melalui revolusi-revolusi ilmiah. Kuhn menyebut upaya revolusioner sebagai paradigma. Paradigma menggambarkan terjadinya dimensi kreatif pikiran manusia dalam bingkai filsafat. Pergeseran paradigma merupakan letupan ide yang merangsang timbulnya letupan ide-ide yang lain, yang terjadi terus-menerus, sambung menyambung, baik pada orang yang sama maupun orang yang berbeda. Reaksi berantai ini akhirnya menjadi kekuatan yang bisa merubah wajah dan tatanan dunia serta peradaban manusia ke arah suatu kemajuan. Paradigma membimbing aktifitas ilmiah, dan selama menjalankan riset ini kita bisa menjumpai berbagai fenomena yang disebut anomali. Jika anomali ini kian menumpuk, maka bisa timbul krisis. Dalam krisis inilah paradigma mulai dipertanyakan.
Paradigma akan selalu menggantikan posisi paradigma lama, dan jika tidak, para ilmuwan tidak memiliki kerangka kerja yang mapan. Paradigma merupakan tempat kita berpijak dalam melihat suatu realitas. Kekuatan sebuah paradigma terletak pada kemampuannya membentuk apa yang kita lihat, bagaimana cara kita melihat sesuatu, apa yang kita anggap masalah, apa masalah yang kita anggap bermanfaat untuk dipecahkan serta apa metode yang kita gunakan dalam meneliti dan berbuat.
Munculnya modernitas mengubah paradigma berpikir. Hal ini yang mengantarkan peradaban Eropa menuju masa pencerahan. Kiranya dapat dimaklumi tatkala Hegel berujar, manusia adalah kesadaran diri; manusia tak hanya hadir di dunia sebagai benda, melainkan sebagai subyek yang berpikir, berefleksi, serta bertindak secara kritis dan bebas. Subyektivitas adalah unsur hakiki dalam paradigma antroposentris. Titik sentral dalam peradaban Eropa—sebagaimana dikatakan Husserl—adalah ego Cogito Cartesian. Pada tahap ini rasio telah menjadi “kesadaran” serta “penggerak kehidupan”.
Dengan demikian, untuk mengatasi krisis epistemologi, kita bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu atau mengembangkan sesuatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi, maka lahirlah revolusi ilmiah [revolutionary science]. Bila paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan penting atau malah mengakibatkan konflik, maka suatu paradigma baru harus diciptakan. Dengan demikian kegiatan ilmiah selanjutnya diarahkan kepada penemuan paradigma baru guna mendapatkan—meminjam istilah Kuhn—discovery [penemuan baru] dan invention [penciptaan baru] yang mana keduanya saling berhubungan erat dalam penemuan ilmiah. Semakin paradigma baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat, maka revolusi ilmiah kian dapat terwujud. Dalam paradigma baru tersebut, terjadilah pergeseran dari normal science ke revolutionary science. Normal science adalah teori pengetahuan yang sudah mapan sementara revolutionary science adalah upaya kritis dalam mempertanyakan ulang teori yang mapan tersebut dikarenakan teori tersebut memang problematis.
Fenomena krisis keilmuan yang menimpa umat Islam saat ini, misalnya, kekerasan atas nama agama, dikotomi pendidikan [pendidikan agama versus pendidikan umum], meningkatnya kecenderungan kelompok islamis-ideologis dengan tawaran yang sangat simplistis: daulah islamiyah, khilafah islamiyah, teokrasi, dan lain-lain, tentu bisa dianalisis dengan menggunakan seperangkat analisis keilmuan, termasuk di dalamnya filsafat. Bagaimana sikap kita dalam memahami realitas dan seperti apa realitas itu menampakkan diri kepada kita? Saya kira, diperlukan cara atau prosedur—meminjam Edmund Husserl—yang dinamakan epoche. Tujuannya mengembalikan sikap kita, sikap yang menghayati, untuk memahami realitas apa adanya serta mendeskripsikan seperti apa dan bagaimana realitas itu menampakkan diri kepada kita. Apa yang tampil kepada kita itulah yang disebut fenomena. Kita mesti berjalan menurut komitmen yang jelas terhadap rasionalitas ilmiah, yang berjalan berdampingan dengan komitmen keagamaan dari komunitas yang diteliti. Pemakaian epoche harus diterapkan secara longgar, dengan mengadopsi posisi refleksi-diri, dan komitmen pada pelibatan komunitas dalam setiap tafsiran yang diberikan, sehingga fenomena dapat dimungkinkan untuk berbicara buat dirinya.
Lalu apa yang mendasari lahirnya sebuah peristiwa atau fenomena, sebutlah kekerasan atas nama agama, maraknya tuntutan perda syariah, misalnya? Ini pertanyaan yang perlu dijawab. Apakah cara berpikir teologis—meskipun bukan satu-satunya faktor—menjadi dasar: mengapa kekerasan atas nama agama seringkali menjadi fenomena yang tak kunjung selesai?—bahkan perkembangan terakhir menunjukkan kekerasan atas nama agama semakin tak terkendali.
Fenomena kekerasan memang tidak bisa dibenarkan apapun alasan yang mendasarinya, termasuk agama. Tidak ada kekerasan dalam agama dan tidak ada agama dalam kekerasan. Akal budi pun juga berpendapat demikian. Namun, dalam studi ilmiah, kekerasan adalah sebuah fenomena yang bisa dilacak sampai ke akar-akarnya. Di sinilah pentingnya sebuah research. Kekerasan bisa terjadi karena beberapa faktor, misalnya, faktor psikologis individu, gejolak biologis, atau faktor sosial struktural, juga bisa disebabkan oleh suatu hubungan kausal antara struktur, proses, dan perilaku level personal dan level global. Kekerasan dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Ia bisa berupa kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan struktur negara terhadap individu ataupun kelompok, bisa juga berupa kekerasan ide, wacana, bahasa, dan bentuk-bentuk simbolik lainnya. Kekerasan simbolik, misalnya, bekerja dengan menyembunyikan pemaksaan dominasi untuk menjadi sesuatu yang diterima sebagai “yang memang seharusnya demikian”.
Bahasa sebagai wacana termasuk faktor penting sebagai pemicu terjadinya tindakan kekerasan—sebagai contoh: fatwa haram MUI [Majelis Ulama Indonesia] tentang sekularisme, liberalisme dan pluralisme, baik langsung atau tidak langsung menjadi salah satu faktor pemicu gerakan Islam radikal [FPI, misalnya] dalam melakukan tindakan kekerasan. Begitu juga stigma teologis [kafir, murtad] oleh kelompok radikal terhadap penganjur sekularisme, liberalisme maupun pluralisme merupakan kekerasan dalam bentuk lain, yakni kekerasan verbal. Kurangnya wawasan dan tiadanya landasan epistemologi yang benar menyebabkan lembaga MUI diragukan keabsahannya, otoritasnya, dalam mengeluarkan fatwa. Hemat saya, fatwa MUI tentang trilogi tersebut, tak ubahnya seperti khamr, sebagaimana disinyalir oleh al-Qur’an: “bahayanya lebih besar daripada manfaatnya”.
Kembali pada soal bahasa sebagai wacana. Merujuk pada Ricouer, wacana sebagai peristiwa mengasumsikan “ada sesuatu yang terjadi ketika seseorang berbicara”. Karenanya, wacana selalu terkait dengan tempat dan waktu; memiliki subyek dalam arti “siapa yang berbicara?”; peristiwa terjadi ketika ada seseorang yang menghadirkan bahasa dalam waktu dan tempat tertentu; wacana selalu menunjuk pada sesuatu yang sedang dibicarakan, merujuk pada dunia yang sedang digambarkan; dan wacana merupakan lokus bagi terjadinya proses komunikasi, pertukaran pesan-pesan dan peristiwa.
Dengan pemahaman seperti itu, maka, suatu peristiwa akan mengantarkan kepada suatu pemahaman bahwa semua fenomena, dalam keberagamannya, dapat dipahami sebagai entitas yang berbeda. Kita bisa melihat (secara intuitif) hakekat gejala-gejala [wesenchau]. Untuk mencapai hal ini, kita bisa memakai metode eidetic vision, yakni kemampuan untuk melihat apa yang sebenarnya ada di sana dalam situasi-situasi yang berbeda. Eidetic vision ini mengandung arti “melihat ke dalam jantung makna agama” tanpa mengabaikan konsep Lebenswelt. Konsep ini [lebenswelt] penting artinya, sebagai usaha memperluas konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru untuk menyelamatkan subjek pengetahuan.
Perlu juga dilakukan tindakan menggambarkan bagaimana kesadaran membentuk fenomena. Untuk menggambarkan, mengidentifikasi, dan menafsirkan makna sebuah fenomena, perlu memperhatikan struktur-struktur intensional dari datanya, dan struktur-struktur intensional dari kesadaran dengan rujukan dan maknanya yang diinginkan sebagai sebuah studi komparatif dan klasifikasi tipe-tipe fenomena yang berbeda. Dengan cara ini, fenomena apapun [termasuk agama dan pengalaman keberagamaannya] dapat diketahui struktur-struktur mendasarnya dan bukan seperti yang dikatakan oleh Eliade, bahwa apa yang religius itu baik, sehat, positif dan menyelamatkan. Penggambaran seperti ini, menurut hemat saya kurang tepat. Jika ada Ilmuwan yang beranggapan seperti itu berarti telah kehilangan kapasitas kritis untuk mengomentari realitas sosial dari agama sebagai faktor yang berkontribusi pada berbagai macam tindakan manusia, baik positif maupun negatif, termasuk hubungan antara agama dan kekerasan.
Kritik publik tidak pernah terjadi dalam satu cara yang terlepas dari konteks sosial. Di sini peran kita selain mendeskripsikan proses-proses sosial yang berasal dari lembaga-lembaga kekuasaan, baik agama maupun sekuler, dan mengidentifikasi pengaruh-pengaruh apa yang diberikan proses-proses ini kepada agama dan pengalaman spiritual dalam konteks kontemporer, juga menghapus praktik-praktik berbahaya di dalam komunitas itu. Dengan cara ini, kita bisa mengungkap struktur-struktur kekuasaan yang menghancurkan agama melalui proses radikalisasi individual, dan pada saat yang sama mungkin menemukan jenis otoritas yang berbeda berdasarkan pada kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi yang kuat.
Agama sebagai mata rantai tradisi otoritatif menyiratkan bahwa agama-agama perlu dipahami sebagai agama, bukan karena mereka percaya atau tidak percaya kepada Tuhan, spirit atau sebagian bentuk transenden, namun karena kepercayaan mereka mentransmisikan dan memperkuat otoritas tradisi. Agama sebagai transmisi tradisi otoritatif memberikan kepada kita satu jalan untuk mempelajari agama tanpa memasukkan agenda teologis, sembari memberikan ruang untuk berbagai perspektif yang utuh, termasuk kritik-kritik posmodern atau poskolonial. Selain itu, pendekatan-pendekatan baru dalam kajian agama mesti memisahkan agama dan the sacred, Tuhan, kekuatan-kekuatan yang transenden, besar atau kuat. Ini akan membebaskan agama dari teologi dan memungkinkan pemisahan yang jelas antara analisis-analisis akademis dan konvensional. Ini juga mendefinisikan secara tajam agama dalam istilah-istilah sosial dan institusional. Sebab, meminjam Hegel: “jalan ke pengetahuan absolut itu memiliki “makna negatif” karena kesadaran alamiah akan kehilangan makna kebenarannya. Hegel menyebut “kehilangan dirinya sendiri” tidak hanya sebagai “jalan kesangsian” [der Weg des Zweifels], melainkan bahkan sebagai “jalan keputusasaan” [der Weg der Verzweiflung]. Itulah skeptisisme yang ditekankan Hegel. [Hardiman, 2007: 75]—seperti akan kita lihat nanti pada dua contoh kasus: khilafah islamiyah dan islamisasi ilmu.
Oleh karena itu, maka orang yang bicara atas nama agama merupakan sebuah kesombongan. Meskipun yang dibicarakan adalah wahyu Tuhan. Manusia, tetap terbatas dan tidak pasti dalam pengertiannya, juga dalam pengertiannya terhadap wahyu itu. Sikap membatasi diri pada iman akan wahyu Tuhan, dan sekaligus menganggap bahwa penggunaan nalar manusia tidak perlu adalah sebentuk kemalasan berpikir. Beriman dengan cara yang sederhana. Itulah yang disebut fideisme yakni sudah merasa cukup dengan mengikuti pedoman agamanya, tak perduli kepada segala macam pikiran, kritik, keresahan intelektual atau paham-paham baru yang diramaikan. Menolak segala pertimbangan nalar sebagai tidak memadai terhadap kepastian yang merupakan ciri hakiki wahyu. Sikap terakhir inilah yang kerap dikritik oleh baik Cak Nur maupun Dawam, karena akan menjadi fundamentalisme apabila semua pandangan tentang alam, dunia, masyarakat dan sejarah diambil secara harfiah dari sumber-sumber wahyu yang dipercayai (dari Kitab Sucinya) dengan menolak segala hasil ilmu pengetahuan yang benar-benar, atau hanya tampaknya, tidak sesuai dengan apa yang ditulis dalam sumber wahyu itu.
Karenanya, kita perlu mencarinya dalam Erlebnisse: pengalaman yang sadar. Kesadaran tidak pernah benar-benar pasif. Karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu. Kesadaran itu tidak seperti gambar. Ia adalah sebuah tindakan. Terdapat interaksi antara tindakan kesadaran (noesis) dan obyek kesadaran (noema). Namun interaksi itu tidak boleh dianggap sebagai kerjasama antara dua unsur yang sama penting. Karena akhirnya hanya ada “kesadaran”. Maka, yang termasuk dalam fenomen juga bermacam-macam. Tidak hanya batu-batuan, alam, masyarakat, tapi juga termasuk emosi, rasa takut, rasa cemas, yang sakral atau yang jahat. Inilah yang dikaji dalam fenomenologi hermeneutik. Hermeneutika adalah suatu pendekatan dalam menafsirkan teks-teks untuk menemukan makna dari teks-teks tersebut. Sementara fenomenologi tidak terbatas pada tafsir teks. Tapi juga realiti di luar teks. Jadi, menurut saya, perlu ada silang metodologi antara hermeneutika dan fenomenologi.
Istilah yang tepat untuk menggabungkan dua pendekatan itu adalah fenomenologi hermeneutika yang mendekatkan diri dengan fenomen teks, atau teks sebagai fenomen. Jika kajian hermeneutika dimaksudkan untuk menemukan makna dari teks-teks, maka, fenomenologi itu tidak terbatas pada tafsir teks, tapi juga realitas di luar teks. Dengan menggabungkan antara hermeneutika dan fenomenologi, diharapkan akan memperkaya wacana keilmuan untuk menemukan sebuah jawaban yang tepat dalam menangkap realitas. Fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat, atau berfilsafat, tapi sudah menjadi bagian dari kaedah, tatacara atau pendekatan penyelidikan—baik ruang maupun waktu. Kant, menyatakan ruang dan waktu adalah a priori dalam kesadaran. Tapi, fenomenologi menjelaskan apa yang dialami: doktrin keagamaan, yang ideal, yang normatif dan sebagainya.
Fenomenologi menyelidiki tentang gejala keagamaan, maka bagaimana perspektif-perspektif itulah yang diselidiki, termasuk sintesisnya. Sedemikian rupa, sehingga seperti itu akan menolong kita untuk menangkap fenomen dengan sungguh-sungguh. Fenomenologi, dengan demikian berpengaruh luas. Sehingga pendekatan dekonstruksi pun—yang banyak diikuti oleh pemikir liberal, seperti: Abed al-Jabirie, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, turut dipengaruhi oleh fenomenologi. Fenomenologi tidak pernah puas hanya melihat dari luar. Fenomenologi masuk ke dalam penghayatan orang.

Kritik Nalar atas Teks
Perlu ditegaskan, bahwa dalam realitas sejarah tidak semua persoalan hidup manusia bisa dijawab dengan teks [termasuk teks agama sekalipun—yang akan dibicarakan lebih lanjut di bawah]. Jacques Derrida, pemikir kontemporer pascastrukturalis, adalah salah seorang yang menaruh perhatian pada peran dan fungsi bahasa. Ia memperkenalkan metode membaca teks. Dalam Speech and Phenomena, and Other Essays on Husserlss Theory of Signs (1973) serta Writing and Difference (1978), Derrida membongkar pendekatan tradisional, seperti yang dipahami sejarawan konvensional, bahwa teks merupakan pembawa makna yang stabil dan setiap peneliti mencari kebenaran [ilmu pengetahuan] melalui teks. Dekonstruksi memisahkan konsep tradisional penulis dan karyanya. Dekonstruksi tidak mengistimewakan penulis, mengubah sejarah dan tradisi menjadi intertekstualitas, dan meninggikan pembaca. Dekonstruksi merupakan aktivitas pembacaan di mana teks harus dibaca dengan cara yang sama sekali baru.
Menurut Derrida, teks dapat menyembunyikan kekurangan, kelemahan, dan kebohongan penulis serta mengandung sejumlah ketakkonsistenan konsep bahkan kontradiksi ciptaan penulis yang menjadi landasan teks, sehingga muncul paradoks dalam menggunakan konsepnya di dalam teks secara keseluruhan. Tak seorang pun dapat membuat sarana [tanda] dan tujuan [makna] menjadi identik. Bahasa merupakan proses temporal. Dalam pandangan Schleiermacher, mengerti atau memahami suatu teks adalah menemukan arti asli teks tersebut atau menampilkan apa yang dimaksud oleh pengarang teks, yakni pikiran, pendapat, visi, perasaan, dan maksud pengarang teks. Setiap zaman memiliki beban tugas untuk menginterpretasikan suatu teks.
Dekonstruksi mengelaborasi sebuah cara pembacaan teks, sebuah strategi dekonstruksi yang memungkinkan dia mengidentifikasi asumsi-asumsi metafisis yang pernah dilontarkan oleh para filosof. Melalui dekonstruksi, teks bukan sekadar medium bagi ilmu pengetahuan, melainkan ia sendiri adalah obyek ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, yang bisa menghadirkan pengetahuan baru. Dengan demikian, dekonstruksi merupakan strategi untuk menguliti lapisan-lapisan makna yang terdapat di dalam “teks”, yang selama ini telah ditekan atau ditindas.
Setiap teks mempunyai banyak lapisan makna, yang dapat dibaca berbeda-beda oleh kepentingan yang berbeda, sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan pembacaan “dekonstruktif” ini justru merangsang pemikiran-pemikiran agama yang kreatif. Dekonstruksi ingin memperlihatkan bagaimana struktur dan pengarang gagal menguasai teks. Dekonstruksi yang ditawarkan Derrida membawa konsekuensi serius pada ranah pemikiran, karena kecenderungan anti fondasionalismenya yang tinggi. Konsekuensi itu mengharuskan untuk menelanjangi klaim-klaim kebenaran dari sistem diskursif filsafat dan metafisika. Ini semua dilakukannya untuk membebaskan penafsiran dari beban makna.
Pengaruh Derrida terhadap para pemikir Muslim, seperti Arkoun, Jabirie, Ali Harb, Abu Zayd, di mana mereka dalam kerja intelektualnya menawarkan model pembacaan yang dekonstruktif yang tidak semata-mata dipahami secara literal-skriptural an sich, tetapi menggali berbagai alternatif makna lain yang memungkinkan untuk melakukan pembacaan secara produktif. Sebab sebuah pembacaan yang baik bukanlah yang sesuai dengan teks, melainkan yang berbeda dengan teks yang dibaca dan dengan subyektifitas dirinya secara bersamaan, sehingga lahirlah sebuah teks yang baru dan aktifitas ilmiah yang bersifat kreatif secara berkesinambungan.
Sebagaimana dijelaskan di muka, bahwa dalam realitas sejarah tidak semua persoalan hidup manusia bisa dijawab dengan teks. Persoalan umat manusia, sejak Adam sampai kini tidak sepenuhnya berjalan atas landasan tekstual agama. Para pengamat yang jeli melihat adanya hubungan dialektik antara teks dengan sejarah [realitas] yang tak jarang dimenangkan sejarah. Ambillah contoh untuk penjelas dialektika teks dan sejarah. Dalam teks-teks primer dan sekunder Islam, perihal sistem politik tidak dijelaskan secara terperinci. Diamnya teks ini tentu mempunyai maksud-maksud tertentu. Sebagian pemikir memandang hal itu memang tidak perlu, karena baik al-Qur’an maupun Nabi sendiri, sadar kalau hal demikian selalu tunduk pada realitas manusia yang berkembang dinamis, progresif dan memerlukan inovasi tiada henti.
Sebagai contoh, teks berbicara tentang negara yang tersusun atas dasar identitas agama, konteks menunjukkan negara bangsa terbangun bukan atas fondasi identitas keagamaan. Teks, oleh kalangan fundamentalis disangka berbicara tentang “hukum Tuhan” [padahal tidak demikian], sementara konteks membutuhkan adanya mekanisme sosio-politik yang lebih demokratis untuk mewujudkan perangkat hukum yang mengatur kehidupan publik. Dialektika teks dengan konteks, seolah memperkukuh anggapan kalau teks beku, statis dan final, membelenggu dan tinggal menerapkannya saja secara harfiah, sebagaimana bisa terbaca dari opini kalangan fundamentalis. Oleh karena itu, tak heran bila pemikir liberal asal Kuwait, Al-Baghdadi mengejek mereka sebagai ‘ubbad al-nushush, penyembah teks itu sendiri atau—dengan bahasa agak halus dan romantis ala Yudi Latief—mendambakan “pelukan teks”. Maka, dalam pandangan Arkoun, strategi terbaik untuk memahami historisitas keberadaan umat manusia, ialah dengan melakukan dekonstruksi dan melepaskan pengaruh ideologis. Jika strategi ini digunakan, maka umat Islam bukan saja akan memahami secara lebih jelas masa lalu dan keadaan mereka saat ini untuk kesuksesan mereka di masa yang akan datang, namun juga akan menyumbang kepada ilmu pengetahuan modern.
Terus terang saja, sebenarnya saya agak malas, ketika berbicara mengenai masa lalu Islam, karena seolah-olah saya hendak mencari justifikasi kebenaran melalui agama. Padahal, dengan menggunakan akal pikiran sendiri sebenarnya kita bisa menentukan ukuran moral universal—tapi bukan berarti menafikan aspek partikularnya—sesuai dengan situasi tertentu. Dan bukan sebaliknya menjadikan moral sebagai dogma—siapapun yang membawanya, termasuk Nabi. Moral dalam sebuah masyarakat pada hakikatnya boleh dipersoalkan legitimasinya. Moral bersifat nisbi. Lama-kelamaan, moral baru akan menggantikan moral sebelumnya, dan memperbaiki dunia-kehidupan masyarakat tersebut. Ini menunjukkan bahwa legitimasi moral adalah sesuatu yang boleh berubah. Persoalan moral itu sebenarnya bukanlah persoalan perasaan. Persoalan moral, bagi Habermas, adalah dasar-dasar rasional yang boleh menggalang wacana, yakni wacana yang membawa suara-suara universal, yang sekaligus dapat dipersoalkan. Jadi, sejauh dapat dipersoalkan, maka itu adalah rasional. Sebaliknya, kalau tidak dapat dipersoalkan, itu adalah persoalan perasaan semata. Dengan demikian, terbukti bahwa persoalan moral adalah persoalan rasional.
Pandangan Al-Razi, yang diutarakan dalam bukunya Naqd Al-Adyan Aufi Al-Nubuwwah (kritik terhadap agama-agama atau terhadap kenabian) mengatakan nabi tidak berhak mengklaim dirinya sendiri sebagai seorang yang memiliki keistimewaan khusus, baik fikiran maupun rohani, karena semua orang itu adalah sama dan keadilan Tuhan serta hikmah-Nya mengharuskan tidak membedakannya antara seseorang dengan yang lainnya, menunjukkan bahwa kritik juga boleh dilakukan pada siapapun, tanpa kecuali.
Karenanya, kita harus membebaskan akal, termasuk cara berpikir [serba] teologis [baca: wahyu yang terekam dalam al-Qur’an]. Kita yang hidup di zaman modern, tidak perlu mendasarkan semua persoalan pada teks, misalnya mengenai poligami, pembagian warisan, kedudukan perempuan, dan berbagai hukum pidana yang dirumuskan dalam fiqh. Jika nalar kita di[ter]belenggu, baik oleh teks [agama] maupun ilmu pengetahuan, maka “Pencerahan” tidak akan pernah terjadi. “Pencerahan” mengandaikan adanya sikap kritis nalar terhadap teks, baik Kitab Suci maupun ilmu pengetahuan.
Seperti saya singgung di muka, bahwa sebenarnya saya malas berbicara mengenai masa lalu Islam, namun, di sini [sebagai contoh saja] saya ingin menunjukkan bahwa masa lalu Islam—tanpa menafikan adanya sejarah buram umat Islam—adalah masa lalu yang dinamis dan senantiasa progresif. Umar bin Khattab, misalnya, khalifah yang konon paling inspiratif [dibanding ketiga khalifah lainnya] dan tidak rigid dalam pengambilan hukum serta lebih menekankan semangat dan jiwa Al-Qur’an dan Sunnah ketimbang teks. Dalam ijtihad Umar misalnya, posisi akal menempati tempat yang utama sehingga ia dikenal sebagai pembawa mazhab ra’yi (akal). Dalam kasus-kasus ijtihad yang dilakukan Umar, secara lahiriah keluar dari teks, tetapi secara esensial justru berpegang teguh pada esensi Al-Qur’an.
Inilah juga yang dilakukan oleh Arkoun, yakni melakukan apa yang disebutnya sebagai “kritik nalar Islami”, yaitu nalar Islami sebagaimana berkembang dan berfungsi pada periode tertentu dan masih memengaruhi serta menguasai dunia Islam hingga hari ini. Untuk melakukan “kritik nalar Islami” ini, Arkoun memakai metode kritik sejarah; berangkat dari masalah bacaan sejarah atau problem historisisme dan problem hermeneutik. Dengan historisisme, Arkoun bermaksud melihat seluruh fenomena sosial-budaya melalui perspektif sejarah: masa lalu harus dilihat menurut strata historikalnya. Jika metode ini diaplikasikan terhadap teks-teks agama, apa yang dibutuhkan adalah makna-makna baru yang secara potensial bersemayam dalam teks-teks tersebut. Ini artinya, historisisme berperan sebagai metode rekonstruksi makna lewat penghapusan relevansi antara teks dengan konteks.
Sejalan dengan Arkoun, Jabirie juga menganggap penting kajian historisisme, dan lebih jauh lagi menekankan keharusan menghadirkan tradisi atau turats dalam kemasan yang lebih cocok untuk modernitas. Usaha pengemasannya ini telah diformulasikan dalam tiga jilid karya monumentalnya, yang ia namakan “Proyek Kritik Akal Arab” (Masyru 'Naqd Aql al-'Arabi). Hanya saja, dalam karya-karyanya, Jabirie tidak membahas persoalan-persoalan seperti ortodoksi, wahyu, mitos, imajiner, simbol atau yang lain dari persoalan teologis seperti yang dominan dalam karya-karya Arkoun.
Apa yang diinginkan oleh Arkoun—dan pada dasarnya juga dilakukan oleh para pemikir liberal lainnya—dengan menggunakan seperangkat metodologi yang dipinjam dari Barat, sesungguhnya tidak lain adalah ingin membangun pemikiran keagamaan yang terbuka, tanpa sikap a priori teologis terhadap semua pengalaman keagamaan manusia dengan menggunakan piranti keilmuan modern. Sehingga ia ingin memadukan pemikiran Islam dengan pemikiran Barat modern. Bagi Arkoun, syarat utama untuk mencapai keterbukaan (pencerahan) pemikiran Islam di tengah kancah dunia modern adalah dekonstruksi terhadap episteme ortodoksi dan dogmatisme. Komitmennya bukan pada keislaman yang sudah menjadi sedemikian baku oleh konstruksi ulama [yang biasa disebut, al-salaf al-shalih], tetapi pada Islam yang masih “cair” atau era “terpikirkan” [dalam bahasa Arkoun], seperti pada era Rasulullah. Kerja keras ini telah membuat sebagian umat Islam terjaga dari tidur tradisi sehingga merasa perlu meninjau ulang posisinya dalam berislam. Sementara pada sisi yang lain, menjadi semakin jelas, seberapapun kuatnya dipegangi, bahwa akar peradaban Islam, episteme atau bangunan nalar keislaman tetaplah berada pada wilayah historisitasnya yang beruang dan berwaktu.
Dengan menemukan “semangat zaman”, para pembaru Islam bermaksud membangun kembali (Reconstruction) komitmen keislaman dan bahkan membangun kembali peradaban Islam. Perjalanan sejarah—mengikuti Adonis—ternyata bukan hanya gerak dan perubahan pada “struktur bawah” tetapi juga pada “struktur atas”. Bahkan “struktur atas” menjadi pusat perubahan dan dinamisasi itu yang justru melahirkan sejarah. Dalam istilah F. Budi Hardiman, makna teks bukanlah makna bagi pengarangnya, melainkan makna bagi kita yang hidup di zaman ini. Maka, menafsirkan adalah proses kreatif. Hal ini berkebalikan dengan kelompok fundamentalis.
Perlu kiranya, saya singgung dalam tulisan ini, bahwa belakangan, suara atas nama Islam yang direpresentasikan oleh kelompok-kelompok yang tidak mewakili sebagian besar umat Islam, yaitu kelompok yang dalam tulisan ini disebut “Islam Radikal” atau ”Islam fundamentalis”, alih-alih ingin berkompetisi di pentas global, umat Islam [justru] dirundung citra buruk di mata dunia dengan stigmatisasi radikalisme, bahkan terorisme. Suatu ideologi yang kerap kali mempunyai fungsi menggugah militansi dan radikalisasi umat. Selanjutnya, fundamentalisme Islam diwujudkan dalam konteks pemberlakuan syariat Islam yang dianggap sebagai solusi alternatif terhadap krisis bangsa. Mereka hendak melaksanakan syariat Islam secara kaffah dengan pendekatan tafsir literal atas al-Qur’an. Pokok pikiran kaum fundamentalis dalam menegakkan syariat Islam adalah pengakuan atas otoritas Tuhan dan syariatnya-Nya semata di atas bumi, dan ketundukan manusia hanya kepada-Nya.
Dalam konteks politik global, fundamentalisme Islam dapat dihubungkan baik dengan realitas politik internasional maupun pemikiran di balik realitas itu. Sebut saja ide tentang clash of civilizations Huntington yang cukup mempengaruhi perilaku politik global pasca-Perang Dingin. Meski tidak valid secara faktual, ide benturan peradaban tersebut cukup kuat bergema sekaligus diafirmasi oleh banyak kalangan. Huntington, mensinyalir dalam statemennya : “Membangun sebuah peradaban musti harus merusak peradaban itu sendiri, jangan membangun jika takut merusak”. Setiap usaha untuk melakukan pembangunan adalah suatu perubahan. Dan suatu perubahan pasti menyisakan resiko. Sehingga pilihan menghadapi suatu dilema: terus mendesakkan industrialisasi dan modernitas akan berarti menghancurkan landasan nilai yang terdapat di dalam kebudayaan-kebudayaan dan tradisi-tradisi yang ada. Dan, “Ketidaktahuan akan sesuatu masalah, akan melahirkan prasangka” (the ignorance to the something is the roat of the prejudice).
Dalam perspektif inilah, lahirnya fundamentalisme Islam tak lepas dari bingkai pandangan yang terbentuk secara konfrontatif tersebut. Mengutip Bassam Tibbi, fundamentalisme Islam merupakan gejala ideologi yang muncul sebagai respon atas masalah-masalah globalisasi, fragmentasi dan benturan peradaban. Inilah gambaran betapa telah terjadi ketegangan dalam pergumulan umat Islam dengan modernitas, yakni berputar-putar pada masalah keautentikan dan kemodernan. Ketegangan ini terlimpah antara desa lawan kota, buta huruf versus pendidikan, kepasrahan versus ambisi, kesalehan versus kemungkaran, dan sebagainya.
Penolakan kaum fundamentalis terhadap dominasi konsep Barat ini bukan semata karena ia merupakan solusi yang diimpor (al-hulul al-mustauradah), seperti yang dinyatakan oleh Yusuf Qardhawi, tetapi juga karena lebih mencerminkan prototipe negara sekuler. Konsep ini, menurut mereka, bertentangan dengan doktrin Islam dan formalisasi syariat Islam. Sebaliknya, mereka mengusung pandangan teosentris Islam yang tanpa batas dengan menolak ide tentang manusia sebagai jiwa yang bebas untuk menentukan diri sendiri. Sebab itu, mereka membutuhkan wilayah kekuasaan yang dibayangkan sebagai tempat implementasi hukum syariat.
Inilah fenomena—seperti disinyalir oleh Nasr Hamid Abu Zayd—yang terjadi pada paroh kedua abad ke-20 ini adalah bahwa kepercayaan akan eksistensi “syari’ah” telah menyebabkan terciptanya kerancauan pemahaman, yang bercampur aduk dengan perasaan iman keagamaan, sehingga pemikiran tersebut menjadi dogma keagamaan, dan “syari’ah” dengan pemahaman seperti ini menjadi bentuk lain dari aqidah, yang mana Islam tidak akan sempurna tanpa kedua konsep tersebut (aqidah dan syariah) secara bersamaan. Oleh karena itu, “penerapan syari’ah” menjadi tuntutan yang indah; karena tanpa syari’ah masyarakat Muslim akan kehilangan sifat “islami” dan menjadi masyarakat “jahiliyah”. Inilah pendapat yang dirumuskan al-Maududi dalam konteks pertarungan politik sektarian di India pada malam kemerdekaan, dan yang menjadi penyebab kaum Muslimin India melepaskan diri dan mendirikan sebuah negara yang kemudian dikenal dengan nama Pakistan.
Bruce B. Lawrence [Shofan: 2006] memotret fundamentalisme sebagai ideologi. Ia segera mengglobal berkat publikasi media. Dalam penelitiannya yang berjudul ‘Defenders of God: the Fundamentalist Revolt Against the Modern Age’, Lawrence, menggunakan dua kerangka yaitu, Context dan Countertext. Pertama, kerangka Context dipakai Lawrence untuk menggambarkan dua elemen mendasar: antara modernitas dan modernisme. Modernitas menjadi elemen pokok dari dunia modern itu sendiri; sementara modernisme menjadi paham yang membentuk pengalaman manusia dalam berinteraksi dan merespons dunia modern. Antara modernitas dan modernisme dipakai Lawrence untuk menentukan era teknologi tinggi dalam sejarah dunia.
Kedua, kerangka Countertext dipakai Lawrence untuk menguji respon keagamaan terhadap modernitas dan modernisme, yang secara definitif disebut dengan kaum fundamentalis. Lawrence memfokuskan kajiannya pada kaum fundamentalis Yahudi, Kristen, dan Islam. Fundamentalisme, dengan demikian, menjadi gejala agama-agama. Ia tidak khas dengan agama tertentu. Islam, misalnya. Yang ditunjukkan oleh ketiga fundamentalis ini, demikian analisa Lawrence, adalah yang disebut Countertext terhadap visi dunia modern. Di sini lahirlah ambiguitas kaum fundamentalis. Satu sisi, kaum fundamentalis secara implisit menerima dan menikmati manfaat-manfaat modernitas dalam bentuk teknologi modern, namun pada sisi lain, mereka secara eksplisit menolak modernisme sebagai kerangka ideologi yang holistik. “They are moderns but not modernists”.
Penelitian Lawrence, secara umum dapat disimpulkan bahwa di samping sebagai kebangkitan dari proses radikalisasi agama, kehadiran kaum fundamentalisme juga sebagai gerakan protes terhadap hegemoni modernitas dan modernisme. Karena itu, kaum fundamentalis berambisi menawarkan pandangan dunia baru yang menciptakan dunia bersandarkan pada nilai dan pengalaman religius keagamaan.
Fundamentalisme adalah fakta global dan muncul pada semua kepercayaan sebagai tanggapan pada masalah-masalah modernisasi. Karen Armstrong mengatakan bahwa gerakan fundamentalis tidak muncul begitu saja sebagai respon spontan terhadap datangnya modernisasi yang dianggap sudah keluar terlalu jauh. Semua orang religius berusaha mereformasi tradisi mereka dan memadukannya dengan budaya modern, seperti dilakukan pembaharu Muslim. Ketika cara-cara moderat dianggap tidak membantu, beberapa orang menggunakan metode yang lebih ekstrem, dan saat itulah gerakan fundamentalisme lahir.
Lebih kentara lagi tatkala penafsiran teks keagamaan yang parsial mewarnai kehidupan politik kita. Akibatnya, pembenaran politik berdasarkan teks Kitab Suci membawa pada hegemoni dan cenderung bertindak represif terhadap kelompok subordinat tertentu. Radikalisme dan fundamentalisme ekstrem pada urutannya akan menghasilkan kekuasaan yang tidak berkompromi dengan pluralitas (demokrasi) alias otoriter. PKS partai islamis yang dipengaruhi oleh gerakan al-Ikhwan pimpinan Hasan al-Banna menempuh jalan demokrasi untuk mencapai tujuannya. Meskipun tidak menolak demokrasi, pluralisme dan nasionalisme Indonesia, namun kita tetap saja belum bisa membuktikannya, apakah PKS benar-benar menjadi partai pluralis atau justru sebaliknya, itu semua hanya merupakan strategi belaka untuk mencari simpati massa. Kita masih harus menunggu sampai suatu ketika PKS memegang kekuasaan. Sementara faksi-faksi seperti MMI [Majelis Mujahidin Indonesia], HTI [Hizbut Tahrir Indonesia], dan FPI [Front Pembela Islam] mereka punya tuntutan yang sama: pelaksanaan syariat Islam.
Fundamentalisme keagamaan yang berpegang pada sikap literer yang sangat kaku dan melihat segala sesuatu secara hitam putih sangat diragukan kemampuannya dalam menjawab masalah-masalah makna (meaning) riil yang dimunculkan oleh proses modernisasi. Ketidaksanggupan kaum fundamentalis dalam melakukan penalaran ilmiah, tampak pada lemahnya gagasan-gagasan yang cenderung utopis. Menyebut dua di antaranya adalah gagasan mengenai khilafah islamiyah dan islamisasi ilmu.

Khilafah Islamiyah

Melalui khilafah kelompok Islam fundamentalis berasumsi bahwa penerapan syariah dapat ditegakkan, kesatuan umat (pan-islamisme) dapat digalang, jihad dapat dilaksanakan. Pendek kata, dengan tegaknya pemerintahan Islam, segala bentuk korupsi, kriminalitas, kemiskinan, dekadensi moral, dan persoalan lain dapat diselesaikan. Namun, merealisasikan gagasan itu sungguh tidak semudah seperti membalikkan tangan. Asumsi-asumsi tersebut, menurut hemat saya, tak lebih hanyalah sekadar slogan hampa yang disuarakan demi kepentingan politik belaka. Ini terlihat dari upaya para pendukung gerakan itu yang hanya menggunakan label Islam tanpa memahami secara jernih konsep-konsep keagamaan yang dijadikan sebagai slogan. Spanduk-spanduk yang mempromosikan syariah dengan gambar wanita cantik berjilbab sembari menyungging senyum bertuliskan: “Indahnya Syariah Islam” banyak memenuhi sudut-sudut kota. Slogan-slogan yang mereka kampanyekan seperti Islam Way of Life, Islam adalah cahaya, demokrasi adalah kegelapan, pada prakteknya hanyalah alat kampanye belaka untuk mengais dukungan publik Muslim yang selanjutnya dijadikan sebagai dasar legitimasi untuk menindas atas nama Islam. Islam hanya menjadi tameng bagi watak politis upaya-upaya tersebut dan menjadi dogma-dogma eksklusif. Pemberlakuan syariat Islam yang konon secara kaffah itu diberbagai belahan negara Islam justru lebih banyak menimbulkan distorsi dan kejahatan kemanusiaan ketimbang memunculkan sebuah peradaban manusia yang egaliter, demokratis, berkeadilan, dan manusiawi.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Gagasan ini antara lain dilontarkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail R. Al-Faruqi. Ajuan gagasan itu bertitik tolak dari anggapan bahwa sistem pendidikan yang datang dari dunia Barat itu hanya dapat mengembangkan peradaban materialistik belaka dan rusaknya nilai-nilai spiritual dan moral. Gerakan pencarian epistemologi Islam ini tampak semakin nyata ketika pada tahun 1984 terbit majalah Afkar/Inquiry. Di situ banyak dibahas masalah-masalah di sekitar epistemologi Islam. Bahkan beberapa penulis di antaranya telah maju selangkah dengan membahas temuan-temuan mutakhir sains modern dalam berbagai bidang, seperti biologi, antropologi, masalah lingkungan dan sebagainya. Dari kelompok ini bisa dicatat nama-nama Ziauddin Sardar, Munawar Ahmad Anees, Parvez Mansoor, Gulzar Haider, Meryll Wynn Davies – yang juga adalah redaktur di majalah tersebut.
Rahman juga menganggap rancangan sistematis al-Faruqi mengenai langkah-langkah islamisasi ilmu terlalu mekanistis. Begitu juga dengan Hossen Nasr dan Naquib al-Attas yang dinilai hanya akrab dengan bagian-bagian tertentu dari tradisi intelektual Islam. Karenanya, Rahman, dengan tegas menolak gagasan Islamisasi pengetahuan. Selain Rahman, Abu Zayd, juga menolak keras bahkan menentangnya. Ia menyebut pembacaan— dalam rangka Islamisasi ilmu—tersebut sebagai pembacaan tendensius-oportunistik-pragmatis dengan mengabaikan sudut konteks objektif-historis. Upaya Islamisasi ilmu ini juga mendapat tantangan keras dari Arkoun, yang mengatakan bahwa Islamisasi ilmu dan teknologi dapat menjebak kita pada pendekatan yang menganggap Islam hanya semata-mata sebagai ideologi.
Saya melihat bahwa paradigma Islamisasi ilmu tersebut lebih bersifat reaktif dari pada proaktif. Ciri khas Islami itu menjadi sesuatu yang setandar, baku, absolut, konstan, dan rutin, sehingga seolah-olah tidak ada peluang dan ruang gerak yang dinamis. Sikap tersebut, kurang efektif untuk mengantisipasi era globalisasi, justru kita akan terhambat oleh akselerasi perkembangan dan kemajuan iptek serta cepatnya arus perubahan sosial. Belum lagi, soal kesempitan istilah pengetahuan dalam dunia Islam yang hanya dibagi menjadi qauliyah dan kauniyah. Pembagian ini akan berimplikasi pada katagorisasi yang bersifat dikotomis dan trikotomis –sebagaimana tesis Clifford Geertz; priyayi, abangan dan santri– yang tidak selalu menggambarkan realitas yang sesungguhnya. Memang, seruan Islamisasi ilmu pengetahuan, sastra, dan seni, merupakan seruan yang tampak seolah seperti anugerah, namun sesungguhnya petaka.

Membebaskan Nalar dari Dogmatisme Agama
Begitulah mobilisasi ideologis di tengah massa Islam yang tertutup, dan tertindas. Fundamentalisme Islam tidak membangun tenda atau rumah. Ia berdiri dalam ketelanjangan, tak memiliki apapun, tidak bersikap rasional dan tidak lahir dari akal. Dari mana ia lahir? Ia lahir dari rasa, bahkan dari emosi dan hawa nafsu. Oleh karena itu, fundamentalisme selamanya merupakan reaksi dan bukan aksi. Sumber reaksi itu adalah rasa dan aktifitas ragawi semata, dan bukan pemikiran yang merupakan aktifitas akal. Sikap rasional, syaratnya adalah lepas dari nafsu dan perasaan dan melihat sesuatu sebagaimana adanya terlepas dari sikap subyektif. Dan inilah yang memungkinkan kesaling-pahaman.
Dengan demikian, tak ada cara untuk memerangi fundamentalisme selain melalui akal. Yakni, menghadapi setiap sikap ekstrem dengan alternatifnya yang rasional. Hemat saya, untuk sampai kepada pencerahan, pembebasan akal mendapat perhatian yang utama, yang berarti pembebasan dari dominasi dan ketergantungan—termasuk ketergantungan terhadap teks agama, ketergantungan terhadap tokoh, ketergantungan terhadap ilmu pengetahuan tertentu dan ketergantungan terhadap masa lalu. Khusus yang terakhir ini [masa lalu] selalu menjadi rujukan utama—jika bukan satu-satunya—kaum fundamentalis. Seolah masa lalu adalah masa yang paling absah dan otoritatif dibandingkan masa sekarang [modern]. Memang, tidak ada benda tanpa waktu. Dan karena waktu hanya suatu dimensi saja dari kenyataan, maka teori-teori pun muncul bahwa sebetulnya waktu itu relatif. Oleh karena itu secara teoritis orang itu bisa berjalan-jalan ke waktu masa lampau ataupun masa depan melalui apa yang dalam pseudo-ilmiah disebut, “time tunnel” (lorong waktu). Tapi masa lalu bukanlah segala-galanya. Ia berjalan sesuai dengan perkembangan dan kemajuan.
Saya sedang tidak menganjurkan pada pembaca agar meninggalkan agama, tetapi lebih kepada bagaimana agar kita tidak terbelenggu oleh teks agama yang pada akhirnya berujung pada dogmatisme-absolutisme. Bagi saya ilmu pengetahuan tidak mungkin dipisahkan dari agama, karena agamalah yang menjadi salah satu faktor penyebab lahirnya ilmu pengetahuan [modern]. Perdebatan antara wilayah teologis [wahyu, teks] dengan nalar [akal budi] sudah sangat dikenal luas dan telah berlangsung sejak Abad Pertengahan, ketika para filsuf dan teolog saling berargumentasi mengenai “kebenaran” dengan cara mempertentangkan “iman” dan “rasio”. Nalar adalah refleksi dari rasionalitas yang terbelenggu oleh dogma gereja yang ambigu. Nalar berhasil meminggirkan [doktrin-doktrin] agama. Dan dunia Barat menjadi tersekularkan. Melewati masa Renaissance, periode pencerahan hingga sampai ke zaman modern ini, masih dirasakan pengaruhnya.
Debat Habermas dan Ratzinger tentang sekularisasi, saya kira patut kita cermati. Habermas adalah filsuf mazhab Frankfurt yang sepenuhnya mengimani rasionalitas. Sementara Ratzinger dikenal sebagai pribadi yang teguh menjaga ortodoksi Katolik. Kini, Ia pemegang otoritas tertinggi gereja yang sepenuhnya berpegang pada kebenaran transenden. Baik Ratzinger maupun Habermas dalam perdebatan ini sama-sama memakai istilah paska sekular. Ada semacam common ground bagi proses dialog antara iman dan nalar. Nalar dan iman perlu memerhatikan secara sungguh-sungguh sumbangan yang diberikan masing-masing pihak.
Habermas dalam debat ini memberikan penekanan pada public use of reason dalam proses komunikasi publik. Habermas mengawali argumentasinya pada teori liberalisme politik dari Kant. Liberalisme politik adalah legitimasi non-relijius dan legitimasi paska metafisik yang menjadi dasar normatif pembentukan negara demokratis konstitusional. Liberalisme penting artinya bagi pluralisme sebagai fakta kemasyarakatan yang tak terbantah. Dalam isu pluralisme, Habermas lalu mengolah kembali teori Rawls tentang keadilan hingga formulasi liberalisme politis. Dalam titik ini, sebagaimana ideologi-ideologi lain, agama memiliki hak dan peran politis. Agama baru bisa bicara pada ruang publik selama patuh pada “klausul kondisional”, yakni agama mesti berbicara dan merepresentasikan diri dalam rasionalitas publik.
Sedang Ratzinger mengawali uraiannya dengan meninjau kenyataan masyarakat global yang makin terhubung satu sama lain. Di sana terjadi proses saling memengaruhi yang cenderung mengikis kontrol moral dan yuridis. Pendeknya, apa yang disebut etika menjadi semakin tak bermakna dalam masyarakat global. Situasi ini meliarkan potensi mencipta dan merusak di antara manusia dan dunia yang dihuninya. Ratzinger melihat ilmu pengetahuan semakin mustahil diharapkan mampu melahirkan etika.
Debat dua ilmuwan di atas, seolah menggambarkan pertentangan nalar vs. iman. Seperti saya kemukakan di atas, bahwa nalar dan iman [agama] sama-sama berpotensi menyeret kita pada absolutisme, saat kita tidak mampu mengambil jarak dari kungkungan dua arus: nalar dan agama. Kematian pemikiran—sebagaimana disinggung Mas Dawam— bisa muncul dari sini, jika ahli pikirnya tidak sanggup melahirkan kontekstualisasi gagasannya serta ulama tidak sanggup bertanggung jawab atas agamanya.
Dengan demikian, kita harus berani mempertahankan kebebasan pada saat kebebasan sungguh-sungguh terancam. Sapere aude! “Beranilah berpikir sendiri!” Teks pendek itu terbukti menjadi soko guru dunia modern. Pencerahan—mengikuti Kant—terjadi ketika manusia membebaskan diri dari selbst verschuldeten Ummundigkeit, ketidak-dewasaan atau ketergantungan yang justru kita tumbuhkan sendiri dalam diri kita. Dalam keadaan tak dewasa itu, manusia memang tetap punya akal budi, tapi ia tak punya tekad dan keberanian untuk menggunakannya. [Wardaya, SJ, 2004: xvii-xviii]. Ketidakdewasaan itu sebagai ketergantungan dan ketertundukan pada otoritas lain di luar kemampuan akal budi manusia sendiri, entah itu kitab suci, institusi, tokoh maupun apa yang selama ini diwarisi atas nama “tradisi”. Dewasa atau tidak dewasanya seseorang tergantung pada pilihan dan keberanian untuk menjalani pilihan itu.

Mencegah Hidup Tanpa Nalar
Kompleksitas dunia seharusnya menjadikan manusia merasa tertantang untuk melanjutkan ekspedisi di alam semesta. Manusia dituntut secara terus menerus untuk mencari cara baru menafsir realitas, dalam memahami kompleksitas dunia. Karena di situlah letak nilai dan derajat kemanusiaannya yang ditentukan oleh logos, nalar dan kata. Kata-kata menjadi elemen-elemen yang membangun struktur bahasa. Dunia yang terus-menerus menampilkan seabreg ide dan bentuk yang berbeda satu sama lain adalah sebuah kompleksitas yang berbelit menuntut pemahaman akan keragaman. Nalar adalah fakultas mental yang memungkinkan manusia hidup dalam pluralitas, yang sudah menggerakkan manusia mencapai bentangan peradaban di hadapan kita kini. Untuk mengkonstruksinya, kita perlu berangkat dari realitas sehari-hari. Karena pada kenyataannya pluralitas itu tak bisa dihindari dan secara psikologis kita tak mungkin luput dari pengaruhnya, baik yang positif ataupun negatif. Kita tetap berkomunikasi dengan orang yang beragam betapapun minimalnya keterlibatan kita dengan mereka.
Peradaban manusia menunjukkan bahwa dari masa ke masa manusia makin mengarah ke cultural hybrids [budaya hibrida], hidup dalam keragaman sebagai hasil percampuran budaya. Pemahaman terhadap keragaman realitas dan cara berpikir menunjukkan watak nalar manusia. Nalar yang sejauh ini membantu manusia hidup dalam pluralitas mestilah punya atribut mampu melintas batas, bergerak dari satu garis ke garis lain, dari satu jalur ke jalur lain, dari satu kutub ke kutub lain. Keutamaan dari sifat nalar adalah kelenturannya, fleksibilitas untuk bergerak dari satu hal ke hal lain, selain tentu saja memiliki kemampuan memahami, menambah pengetahuan-pengetahuan baru sembari terus menjelajahi kemungkinan baru.
Begitulah nalar mengalirkan hidup dan menggerakkan peradaban manusia; tak putus-putus sebab nalar adalah kelincahan gerak mental dan refleksi manusia yang tak beku-beku mengaliri kompleksitas dialektika beragam kemungkinan. Nalar bukan hanya kapasitas untuk memahami berdasarkan kategori atau prinsip identitas. Kemampuannya bukan hanya memilih dan memutuskan, tetapi juga menengahi, mengkoordinasi, berimajinasi, bekerja sama dengan emosi dan kehendak. Ia membawa manusia pada pengetahuan yang lebih baik dari sebelumnya dan kepada kemungkinan-kemungkinan pengetahuan yang lebih baik di masa datang.
Maka, sekali lagi, pencerahan merupakan tugas kemanusiaan. Maka, agar terhindar dari absolutisme dan mencapai kedewasaan, tidak bisa tidak kita harus berani berpikir sendiri. Etos pencerahan Kant—tanpa harus menyepakati seluruh doktrin filosofis Kant—harus terus dijaga, dipelihara dan dikembangkan. Kita tetap merawat dan menghidupi etos kritis yang diwariskannya. Sebab etos kritis itu merupakan satu-satunya perangkat yang tersedia untuk melawan segala bentuk dominasi, suatu “kritik permanen” yang lahir dari rahim Pencerahan. Nalar selalu cenderung untuk mencari sebuah jawaban dari setiap persoalan kehidupan untuk memperoleh kebenaran, dan menghampirinya lewat uji falsifikasi terus menerus. Inilah yang disebut oleh Karl Popper, sebagai nalar falsifikasi, nalar yang menggeser segala dogma, ideologi, atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi. Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian, melainkan kehampiran. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Tak dapat dimungkiri. Berkat falsifikasi, sains [atau bahkan teks, wahyu] pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan. Dalam Islam, pencerahan sudah dilakukan, misalnya, oleh Arkoun dan Jabirie, melalui proyek “kritik nalar” sebagai basis bagi Pencerahan Islam.
Dari sini, usaha yang pernah dirintis oleh para ahli melalui proyek sekularisasi menemukan signifikansinya. Pengetahuan ilmiah itu bersifat faktual, bebas nilai, dan netral. Agama tidak boleh menantang pandangan dunia yang dominan. Agama dapat hadir berdampingan dengan ilmu pengetahuan, tetapi ia tidak akan pernah boleh menghalangi ilmu pengetahuan. Agama dipakai ketika nalar belum mampu menemukan jawaban. Dengan kata lain merupakan komplementer dari apa yang belum bisa ditemukan melalui ilmu pengetahuan. Karenanya, amat sangat mungkin, jika dalam era globalisasi, di mana batas otoritas wilayah agama dan ilmu pengetahuan menjadi kabur, maka ”pilihan menjadi sekuler merupakan pilihan paling tepat”, begitu kata Dawam. Menjadi sekuler tidak selamanya berpretensi negatif. Sekularisasi merupakan perangkat yang dapat menyelamatkan ajaran agama untuk kesejahteraan umat manusia sendiri. Jika tidak ada sekularisasi, maka eksistensi agama akan menjadi hambatan yang besar terhadap kemerdekaan berpikir, keterbukaan wacana dan ilmu pengetahuan yang merupakan spirit sekularisme.
Sejarah membuktikan, kebebasan berfikir di dunia Islam telah mengisi ruang-ruang peradaban dunia. Karenanya, gerakan sekularisasi, liberalisasi yang sanggup melakukan pembacaan kritis atas teks-teks keagamaan, sehingga nalarnya tidak eksklusif menjadi sebuah keharusan di dunia modern saat ini. Bagaimanapun, kritik teks, baik sejarah maupun teks-teks suci adalah disiplin baru yang tak memiliki preseden dalam sejarah intelektualisme umat manusia. Di masa silam, teks-teks suci dianggap sebagai korpus tertutup yang sudah selesai dan tak boleh diganggu-gugat. Siapa saja yang mencoba mengkritisinya, dia akan dianggap murtad, kafir, zindiq, atau istilah-istilah lain yang sejenis.
Dalam sekularisme eksistensi agama tetap diakui tapi terbatas pada ranah domestik, yaitu pribadi dan keluarga, karena adanya kesadaran bahwa agama, bahkan kitab suci, diturunkan bukan untuk memberi kejelasan sedetil-detilnya dalam kehidupan sehari-hari. Semangatnya adalah lebih kepada memandirikan manusia: semangat pembebasan. Oleh karena itu terwujudnya kebebasan yang lebih besar dan dunia yang lebih terbuka merupakan sebuah keniscayaan: dengan suatu keyakinan bahwa kebebasan dan keterbukaan menyediakan latar yang sanggup membebaskan kreativitas individual. Kebebasan dan keterbukaan menggerakkan dinamisme yang telah membawa kemajuan di bidang kemanusiaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. [Norberg, 2009: xxix]
Sejarah sebagai sebuah peristiwa tidak mungkin terulang lagi, dan teks sejarah adalah dokumentasi yang berisi penafsiran dan rekonstruksi atas sebuah peristiwa yang ditulis oleh pengarangnya, maka antara masa lalu dan masa kini mesti terdapat tabir. Yang menghubungkan sejarah dan kehidupan kita sekarang adalah makna yang dikandungnya. Berbeda dengan kaum fundamentalis, kebenaran menurut mereka adalah sejumlah doktrin dan dogma yang tersedia di masa lalu. Hal-hal yang datang kemudian, baru dan modern harus merujuk kepada masa lalu. Melihat masa kini dengan kaca mata masa lalu (al-fahm al-turâtsî li al-‘ashr).
Memandang teks atau wahyu serta apa saja yang berasal dari masa lalu sebagai benar dan baik merupakan sebuah kekeliruan—jika tidak boleh disebut kesombongan. Atavisme atau obsesi kepada masa lalu dan pengagungannya biasanya berjalan seiring dengan sikap-sikap konservatif, karena itu justru akan menghambat kemajuan dan daya inovasi. Kreativitas akan terhambat jika suatu masyarakat terjerembab ke dalam pandangan-pandangan atavistik dan pemujaan masa lalu. Maka, dalam keadaan tertentu diperlukan kemampuan “memutuskan” diri dari budaya masa lalu yang negatif, yang kemampuan itu sendiri dihasilkan oleh sikap-sikap kritis yang bersifat membangun. [Madjid, 1997:188] Sikap kritis yang membangun merupakan hasil adanya pengertian menyeluruh terhadap eksistensi nilai-nilai budaya masa lalu tersebut—termasuk pengertian tentang dinamika interaksinya dengan tuntutan sejarah—dan keberhasilan menangkap tantangan zaman mutakhir.
Karenanya tidak ada jalan atau solusi terbaik kecuali penafsiran secara kreatif produktif dengan keterbukaan masa kini dan masa depan, yang mana dalam proses penafsiran tersebut bukan sekedar mereproduksi teks-teks, melainkan menafsirkannya secara kreatif. Sejarah, akan memiliki makna ketika dipertemukan dengan keprihatinan masa kini untuk membangun harapan di masa depan. Sikap seperti itulah yang akan melahirkan pencerahan. Pencerahan lebih kepada sikap nalar dibandingkan sebuah bagian di dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Ia adalah sebuah suasana hati yang kuat dalam berpikir bebas, bertanya kritis, sebuah suasana hati yang tersebar di dunia Barat sejak abad ketujuhbelas. Di dalam bidang ilmu pengetahuan ia adalah sebuah masa eksperimentasi dan penemuan melalui pencarian rasional bebas. Di dalam bidang filsafat dan agama, pencerahan adalah masa mempertanyakan sumber-sumber otoritas tradisional seperti gereja atau Bible. Di dalam politik ia adalah sebuah periode ketika tatanan yang mapan, status quo, ditolak di mana despotik dan irasional digantikan dengan toleransi, penelitian terbuka dan kebebasan, dan otoritas tradisi eksternal dibuang demi otoritas individual. Tidak ada lagi ide-ide yang dianggap suci atau melampaui bentangan kritisisme. Pencerahan selalu bertujuan untuk membebaskan manusia dari ketakutan dan membangun kedaulatannya.
Kita mesti berusaha mengatasi berbagai bentuk pernyataan dan kontradiksi dogmatis. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan cara melatih diri dalam tata keilmuan baru dalam konteks cara pandang spiritual-intelektual yang juga baru atas berbagai kegiatan yang menyangkut cara kita berpikir, menulis, melakukan evaluasi, dan mengetahui. Dengan kata lain dalam mendekati pertanyaan tertinggi tentang makna, sehingga membentuk pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori.
Sekali lagi, Islam sangat menghargai kebebasan berpikir. Berpikir merupakan fungsi akal yang sangat dimuliakan kedudukannya oleh Islam. Kalangan Mu’tazilah menyebut akal sebagai “organ yang paling adil dalam diri manusia” (a‘dal al-asyyâ’ qismat-an laday al-insân). Kebebasan berpikir mensyaratkan terciptanya iklim kebebasan berekspresi, baik secara lisan maupun tulisan. Kebebasan berekspresi juga menghendaki adanya kebebasan yang memadai untuk berpendapat dan mengungkapkan fakta-fakta kebenaran.
Semua bentuk pikiran dan ide, betapapun aneh kedengarannya di telinga, haruslah mendapatkan jalan untuk dinyatakan. Kacaunya hierarkhi antara nilai-nilai mana yang ukhrawi dan mana yang duniawi, semuanya itu akibat tiadanya kebebasan berpikir karena sistem berpikir masih terlalu tebal diliputi oleh tabu dan a priori. Padahal, tidak jarang, dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang umumnya semula dikira salah dan palsu itu, ternyata kemudian benar. Kenyataan itu merupakan pengalaman setiap gerakan pembaruan, perseorangan maupun organisasi, di mana saja di muka bumi ini.
Keyakinan diri dan kemampuan kita dalam menghadapi masa depan sangat tergantung pada bagaimana cara berpikir kita. Sebab cara berpikir merupakan salah satu yang paling substantif dalam diri kita [ingat, Descartes: cogito ergo sum]. Sepatutnya kita sekarang menghidupkan kembali kepercayaan yang lebih besar kepada manusia dan kemanusiaan. Sikap ini akan mempunyai dampak keterbukaan cara berpikir yang luas dan kreatif, tanpa kehilangan sikap kritis, yang sangat diperlukan dalam usaha menumbuhkan dan mengembangkan etos keilmuan di kalangan kaum Muslim. [Madjid, 1997:36] Kaum Muslim harus menentukan agenda perdebatan di masa yang akan datang dengan memberi penekanan khusus atas kebebasan sebagai ide tertinggi dalam hirarkhi nilai liberal; memberikan prioritas bagi budaya kompetisi; dan membumikan desentralisasi radikal dan memelihara pola keberagaman; serta menempatkan pengambilan kebijakan sedekat mungkin dengan publik. [Rachman: 2010]
Dan, kebebasan, pada akhirnya, memerlukan peranan negara juga. Kalau kebebasan tidak diimbangi dengan kekuasaan negara, ia menjadi anarki. Kebebasan berbeda dengan anarki. Anarki adalah individualisme yang ekstrem. Pengekangan yang kokoh atas tatanan publik dan keamanan adalah bertentangan dengan kebebasan, seperti yang dikatakan John Locke: “Berakhirnya fungsi hukum bukan dengan cara melenyapkan atau menahan orang-orang yang dinilai melanggar, tetapi dengan cara melestarikan dan memperluas kebebasan.” Demokrasi dan kebebasan merupakan dua konsep yang amat penting dalam politik. Kebebasan atau hak-hak sipil bisa dikatakan suatu pengandaian bahwa negara punya peran positif dalam menjamin perlindungan hukum dan kesempatan yang setara bagi semua warga Negara tanpa memandang ras, agama, serta jenis kelamin. Kebebasan sipil meliputi kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, kebebasan berkumpul dan berserikat, kebebasan beragama serta kebebasan pers. Kalau semuanya tidak diakui dan tidak ditegakkan oleh hukum di suatu negara, maka negara itu tidak bisa disebut demokratis. [Basyaib: 145-146] Negara-negara di mana ada kebebasan berpendapat dan berserikat secara berarti, penghargaan hak-hak milik dan pribadi, pelarangan atas penyiksaan dan jaminan kesetaraan di mata hukum adalah negara-negara yang mempunyai sistem politik yang demokratis.
Merujuk Dawam, negara harus bertanggungjawab terhadap kebebasan melalui penetapan hak-hak sipil dan hak asasi manusia. Ajaran agama kalau diwujudkan dalam hukum positif akan menjadi pemaksaan, karena konsep hukum bersifat memaksa. Siapapun yang tidak melaksanakan hukum, dia dihukum. Oleh karena itu, penerapan syariat Islam akan cenderung bertentangan dengan hak asasi manusia dan hak-hak sipil. Liberalisme adalah perihal konsep tentang kebebasan menuju nilai kemanusiaan yang hakiki, yaitu mendapatkan keadilan serta memerdekakan diri dari kegelapan dan penindasan serta kebodohan.
Keberhasilan bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dalam membangun demokrasi, salah satunya adalah karena kita menerjemahkan Islam terutama sebagai budaya, bukan sebagai hukum seperti yang diinginkan oleh perda-perda syariah. Karenanya, liberalisme sebagai wujud dari keterbukaan dan kemampuan melakukan ”kritik diri”, yaitu sikap yang sangat penting dalam kehidupan yang majemuk, tanpa harus menghilangkan atau menghapus identitas keagamaan. Makna generik dari kata liberal sendiri, adalah pembebasan. Dan, Islam adalah pembebasan. Monotheisme sendiri sebenarnya tak lain dari liberalisasi atas kungkungan politeisme dan alam. Artinya, liberalisme sebenarnya sudah terjadi begitu lama di dalam Islam. Berdasarkan itu maka manusia perlu diberi ruang untuk mengekspresikan kebebasannya. Pencerahan dalam Islam tiada mungkin akan terjadi dengan mengabaikan liberalisme. Liberalisme adalah strategi untuk menghadapi suatu problem, yaitu absolutisme dan totalitarianisme agama.
Terakhir, saya ingin mengatakan bahwa kritik terhadap apapun, baik teks [al-Qur’an] maupun ilmu pengetahuan, tanpa disertai kerangka epistemologis yang jelas, kritik itu tidak akan bernilai guna. Landasan epistemologis dan metodologis memungkinkan kita untuk memperdalam pemikiran kritis dan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan. Kita harus terus menerus memperbaiki paradigma berpikir kita dengan nalar sebagai panglimanya. Hilangnya semangat kritis akan memungkinkan kebohongan terhadap sejarah. Jika ini diabaikan, maka bukan mustahil kita telah turut merobohkan peradaban, meruntuhkan keadaban, dan membiarkan kejahatan meremukkan nilai-nilai kemanusiaan—sebagaimana ungkapan Max Horkheimer yang saya kutip diawal tulisan, “Masa depan kemanusiaan tergantung pada adanya sikap kritis dewasa ini.” Wallahu A’lam bi al-Shawab


Tulisan ini dibuat untuk acara WORKSHOP, PENERBITAN DAN PELUNCURAN BUKU “Menata Kembali Visi Pembaruan Islam Indonesia”, Megamendung, Cisarua- Bogor, 26 – 27 Januari 2011