Kamis, 22 September 2011

MENGHIDUPKAN NILAI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Moh. Shofan


“Demokrasi pendidikan harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman intelegensia [multiple-intellegences] manusia, yang meliputi kecerdasan linguistik, logik-matematik, spasial, musik, kinestetik, interpersonal dan intrapersonal”
[Gardner, 1993]

“Nilai tidak bisa diajarkan, tapi dikembangkan melalui pembelajaran”
[Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional]


Lee Kwan Yew saat tahun pertama menjabat Perdana Menteri Singapura, memprioritaskan membangun jiwa, mental, dan karakter warga negaranya. Setelah memasuki tahun kedua, ia membangun seribu WC umum seantero Singapura, lalu membeli seribu dompet yang diisi dengan ratusan dolar Singapura dan kemudian sengaja ditempatkan pada seribu WC umum tersebut. Ketika dicek satu hari setelahnya, seribu dompet itu masih utuh, demikian juga setelah dua hari masih belum ada yang bergeser dari tempatnya. Pada hari ketiga, satu dompet hilang, tetapi ditemukan di kantor polisi di mana isinya tak berkurang.
Sekitar delapan dekade yang lalu, Mohandas K. Gandhi [2009: 327] memperkirakan adanya ancaman yang mematikan dari tujuh dosa sosial, salah satunya adalah pendidikan tanpa karakter. Pendidikan merupakan karakter suatu bangsa. Semakin baik pendidikan suatu negara, semakin baik pula moral, ekonomi, dan budaya negara tersebut. Tulisan ini berangkat dari pertanyaan mendasar: Pendidikan karakter—suatu istilah yang belakangan banyak diperbincangkan oleh para pakar pendidikan—seperti apa yang dibutuhkan oleh manusia Indonesia? Di mana “Living Values Education” [LVE] di tengah wacana pendidikan karakter?
Pendidikan karakter bersifat luas dalam cakupan dan sulit didefinisikan secara tepat. Tetapi, yang dimaksud pendidikan karakter di sini adalah suatu istilah yang menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Pendidikan karakter meliputi beberapa area, seperti: “penalaran moral/pengembangan kognitif”; “pembelajaran sosial dan emosional”, “pendidikan/kebajikan moral”; “pendidikan keterampilan hidup”; “pendidikan kesehatan”; “pencegahan kekerasan”; “resolusi konflik”, dan “filsafat etik/moral”.
Pendidikan karakter menggarap pelbagai aspek dari pendidikan moral, pendidikan kewargaan, dan pengembangan karakter. Sifatnya yang multi-faceted membuatnya menjadi konsep yang sulit untuk diberikan di sekolah. Setiap komponen memberikan perbedaan tekanan tentang apa yang penting dan apa yang semestinya diajarkan. “Jika kita hendak maju secara budaya”, kata Rushworth Kidder—dari the Institute for Global Ethics, dan pengarang How Good People Make Tough Choices [1995]—“sepatutnya mesti ada satu bahasa lagi dalam wacana public, yang mempertanyakan, ‘apa yang benar’ [what’s right]?” Menurutnya, bahasa ini merupakan bahasa yang unik yang membuat kita tak terlalu nyaman membincangkannya. Dan untuk membuat kita nyaman berbincang dalam bahasa ini di masa depan, Kidder menekankan perlunya pendidikan karakter sejak dini.
Pendidikan karakter dapat dimulai dari ranah pendidikan formal mulai sejak usia dini. Mengucapkan terima kasih atau sekadar menyapa adalah bagian [latihan] dalam pendidikan karakter. Kelihatan sederhana memang, tetapi sekarang pun kita jarang menemukan orang yang rela berucap terima kasih atau sekadar menyapa dengan senyum. Pendidikan karakter tidak perlu harus dinilai secara kognitif. Desain pendidikan karakter seharusnya jauh dilepaskan dari unsur penilaian kognitif. Salah satu kegagalan pembentukan karakter saat ini karena terlalu mengkognitifkan nilai-nilai dalam pembentukan karakter.
Dalam pendidikan karakter, para siswa ini disiapkan untuk mampu menyikapi pilihan hidup dengan bijak. Namun, sekolah bukanlah satu-satunya tempat yang utama. Masih ada keluarga dan masyarakat. Rumah dan masyarakat mampu menjadi sahabat, tapi dapat pula menjadi penyekat apabila tidak ada empati yang dirasakan. Semua individu adalah pelaku pendidikan karakter. Dalam lingkungan sekolah, pendidikan karakter harus dimulai dari guru. Guru bukan hanya mengajarkan pelajaran karakter, tetapi guru harus mampu menempa dirinya agar berkarakter. Siswa bukan barang mati yang dapat diperdaya dengan berbagai contoh baik, tetapi guru tidak melakukan hal itu.
Pendidikan karakter mengedepankan contoh dan perilaku daripada ilustrasi angka yang mereduksi hakikat karakter sendiri. Materi pendidikan karakter dipahamkan melalui kegiatan belajar mengajar dalam metode, dan bukan ditagihkan melalui tes. Guru tidak lagi harus duduk di meja sambil membaca buku atau menikmati tontonan presentasi siswa. Guru harus mampu menjadi inspirator setiap siswa dalam belajar. Demikian juga, dalam mata pelajaran adalah sarana yang menjembatani antara guru dan siswa dalam berelasi. Guru tidak mungkin lepas dari materi pelajaran. Guru juga harus mampu mengembangkan materinya sehingga mampu melahirkan kebiasaan diskusi dan eksplorasi akademis.
Karakter dapat diolah melalui berbagai aktivitas yang didasari dengan sikap moral yang benar. Siswa harus diberikan kesempatan sebanyak mungkin untuk mengekspresikan dirinya. Hal ini penting untuk penyaluran emosional. Aktivitas belajar di kelas dengan jadwal yang ketat membuat siswa menjadi lemah kreasi. Kebiasaan nongkrong di luar sekolah terjadi karena tidak ada ruang ekspresi bagi siswa di sekolah. Anggapan yang muncul bahwa sekolah favorit adalah sekolah dengan kemampuan kognitif tinggi tidak sepenuhnya benar. Kognitif tinggi tanpa disertai karakter yang baik akan menghasilkan siswa dalam “cangkang-cangkang akademis” yang minus nurani. Saluran emosional sangat penting dalam ranah pendidikan karakter. Keuntungan lain dari ekspresi adalah mampu menghargai perbedaan orang lain atau kultur lain tanpa harus mengerutkan dahi.
Melatih siswa berpikir kritis sangat penting adalah bagian selanjutnya. Berpikir kritis akan menghasilkan sikap keberpihakan. Hal ini dapat dilakukan dengan berdiskusi atau berdebat di kelas. Berpikir kritis dengan model debat untuk melatih siswa mampu mendengarkan argumen atau opini orang lain. Debat bukan melatih siswa asal berpendapat, tetapi memberi kesempatan saling mencermati. Sayangnya, kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini, meskipun ada pelajaran pancasila, kewarganegaraan, akhlaq dan semisalnya, tapi itu masih sebatas wacana dan tidak dalam tataran aplikatif.
Menurut pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966)—seorang pencetus pendidikan karakter—ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.

Model Teoritis Living Values Education

Living Values Education—selanjutnya disebut LVE saja—adalah program pendidikan yang menawarkan pelatihan dan metodologi praktis bagi para pendidik, fasilitator, pekerja sosial, orang tua dan pendamping anak untuk membantu mereka menyediakan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda menggali serta mengembangkan nilai-nilai universal. Program pendidikan nilai ini juga berlanjut sampai tahap bagaimana anak-anak dan orang muda dapat mengasosiasikan nilai tersebut dalam ketrampilan sosial-emosional dan intrapersonal-interpersonal mereka sehari-hari. Salah satu proses mendasar dalam program pelatihan LVE adalah tiap pendidik juga diajak untuk merefleksikan dan menggali nilai pribadi mereka, agar dapat menjadi pondasi dalam menciptakan suasana belajar yang berbasis nilai. [www.livingvaluesindonesia.org]
Kurikulum LVE mencakup berbagai aktivitas bermuatan nilai untuk damai, menghargai, kasih sayang, kerjasama, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati,tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, kebebasan dan persatuan. LVE menekankan pentingnya dalam menggali nilai-nilai positif tersebut. Maka, pendidikan menghidupkan nilai sangat menyokong penggunaan berbagai aktifitas yang tersedia dalam buku-buku aktifitas pendidikan nilai.
Dalam LVE ada aktifitas membayangkan dan merefleksikan, di mana peserta diajak untuk menciptakan ide atau gagasan mereka sendiri. Peserta diminta untuk membayangkan sebuah dunia yang penuh kedamaian. Melakukan visualisasi terhadap dunia yang ingin digali, sehingga peserta memiliki kesempatan untuk menciptakan pengalaman mereka sendiri, memikirkan ide dan gagasan mereka sendiri.
Siswa juga diajak menghidupkan nilai dengan cara menggunakan permainan, situasi nyata, berita atau persoalan tertentu dalam kegiatan belajarnya. Mereka juga diajak untuk mendiskusikan dengan terbuka, penuh rasa hormat dan saling menghargai, terhadap persoalan-persoalan kehidupan yang menuntut segera bagaimana cara menyelesaiakannya—tentu saja dengan cara yang bermuatan nilai. Diskusi juga dapat mengarah kepada kegiatan mind mapping tentang nilai dan anti nilai. Metode ini, sangat bermanfaat untuk melihat lebih jauh dampak yang ditimbulkan oleh nilai dan anti nilai pada diri sendiri. Dengan demikian, membangun suasana bermuatan nilai dalam kegiatan LVE tentu menjadi suatu keharusan.
Dikatakan dalam LVE, bahwa dorongan positif akan meningkatkan sikap positif. Pun demikian juga sebaliknya. Karenanya, penting bagi guru menciptakan peluang bagi anak melakukan “sesuatu yang baik” agar dapat diberi dorongan positif, misalnya pujian. Kebutuhan dasar setiap orang termasuk siswa adalah untuk diterima, dihargai, dipahami, dan merasa bernilai. Maka bila kita memperlakukan seseorang secara positif dengan penuh penghargaan, sudah pasti siswa dibantu mengalami nilai diterima dan dihargai. Perasaan inilah yang mendorong kemampuan pengembangan seseorang untuk lebih kreatif dan berani mengambil inisiatif. Sebaliknya, bila kebutuhan ini (bernilai, dihargai, dipahami, dicintai, dan lain-lain) tidak terpenuhi maka akan timbul banyak masalah dalam hidup kita.
Salah satu bentuk simulasi yang tepat untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut adalah mendengar aktif. Hal yang paling penting dalam mendengar aktif adalah sikap yang memperhatikan, respon terhadap komunikasi non-verbal. Mendengar aktif adalah alat yang efektif untuk merefleksikan isi pembicaraan, mendengar dengan tulus. Dalam mendengar aktif, memberikan respon reflektif adalah salah satu keterampilan yang penting dimiliki oleh pendengar aktif. Merefleksikan isi dari apa yang dikatakannya dan menyatakan kembali kepada yang berbicara dengan cara lebih singkat dan jelas merupakan poin penting yang harus dimiliki oleh pendengar aktif. Hal itu penting karena, ingin memastikan bahwa pendengar aktif memahami dengan benar, memastikan kembali bahwa si pendengar menaruh perhatian, dan tidak kalah penting adalah menarik benang merah permasalahan: bisa membuat hal itu lebih jelas untuk pendengar dan yang berbicara.
Mendengar aktif tidak akan berfungsi dengan baik manakala, jika dalam perjalanannya muncul tuduhan, menasihati, menyalahkan, merendahkan, menghakimi dan lain-lain. Oleh karenanya, dalam kaitannya dengan tugas seorang guru, nilai kebutuhan dasar ini harus diprioritaskan. Banyak hal yang terungkap dalam pelatihan Living Values, mulai dari bagaimana proses pembentukkan nilai sampai bagaimana menggali dan mengembangkan potensi anak didik. Semua itu dimaksudkan untuk mengintegrasikan nilai-nilai dalam kehidupan.
Mengapa kesadaran nilai penting? Kapan kesadaran nilai muncul? Pemikiran dibalik pertanyaan ini mengajak semua orang untuk mengingat kembali: siapa diri saya? Apa yang saya lakukan hari ini? Adakah saya hari ini lebih baik dari kemarin? Dari sini bisa memperluas nilai-nilai yang lain. Dan tentu saja, nilai disesuaikan dengan faktor kultural. Pada intinya kita bertanggungjawab untuk nilai sendiri. Jika ada nilai yang bermasalah dengan orang lain? Kita harus bertanya apakah nilai orang yang salah atau diri kita yang bermasalah dengan nilai kita sendiri. Pada prinsipnya LVE sangat menyesuaikan dengan kondisi di lingkungannya. LVE sangat menghormati dan menghargai situasi lokal.
Materi apa yang dirasakan penting dalam menggali nilai? Ada dua hal yang terjadi, pertama peserta mengekplorasi pengalaman positifnya dan kedua mengeksplorasi pengalaman negatifnya. Sikap yang muncul adalah sangat ekpresif. Pertanyaannya adalah bagaimana mengahadapi orang yang sangat ekpresif tersebut? berempati dan mendengarkan aktif, atau memberikan dorongan positif, memberikan rasa nyaman.
Secara umum semua orang punya cara untuk berpikir dan merasakan kualitas positif. Siswa diajak merenungkan kualitas positif dalam dirinya dan diingatkan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajak menimbang nilai-nilai dalam dirinya, anak-anak belajar hidup dari lingkungannya, tidak hanya di sekolah. Siswa harus tahu alasan-alasan melakukan tindakan, dan menyatukan apa yang ada di kepala dengan di hati dan tubuh untuk melakukan tindakan.
Siswa diajak dengan mengingat kembali masa kecil dan kemudian melihat lagi masa sekarang. Sejauh mana nilai-nilai masa kecil itu masih dianggap penting sampai sekarang? Lalu, dari sini tanyakan siapa orang yang paling berpengaruh, moment /kejadian yang menjadikan bernilai. Tanyakan pula nilai apa yang ada padanya. Siswa akan bisa tumbuh berkembang dalam suasana bermuatan nilai di lingkungan positif dan aman. Dalam LVE ada aktifitas menggambar. Tujuan menggambar untuk memberikan gagasan serta mewujudkan dalam gambar itu nilai apa yang telah didapatkan serta memberikan kebebasan kepada pikiran. Yang penting tahu apa tujuan menggambar, karena dengan begitu bisa menguatkan kembali perasaan.
Dan, yang tak kalah penting dalam LVE adalah “hening”, satu menit, dua menit di pagi hari atau malam hari. Hening berguna untuk menetralkan emosi. Untuk menetralkan pikiran. Hening merupakan bagian disiplin untuk mencintai diri sendiri. Yang penting adalah, apakah kita sudah memberikan damai, respec, dan damai untuk diri sendiri. Kenapa mesti harus berbicara dengan diri sendiri? Berbicara pada diri sendiri secara negatif atau positif, maka itulah yang anda lakukan terhadap orang lain. Sementara berkaitan dengan refleksi, visualisasi sangat berhubungan sekali dengan otak kanan. Otak kanan sangat berperan sekali terhadap afeksi dalam diri kita, yakni: menyeimbangkan antara otak kanan dengan otak kiri. Otak kanan memproses bagian alam bawah sadar kita.
Ada hal yang kadang tak kita sadari, dalam pelatihan LVE. Kadang-kadang kita juga menjadi larut dengan pengalaman siswa. Dalam kondisi seperti ini, jangan sampai simpati kita menjadi berlebihan, larut dengan problem yang dialami oleh peserta. Dalam LVE, emosi begitu penting, karena emosilah yang bisa menggerakkan hidup kita, memberikan dorongan-dorongan. Dan yang penting adalah emosi memberikan sesuatu yang kita butuhkan. Kalau kita tidak mendengar perasaan kita, kita akan mengalami gangguan psikologis, sehingga dalam kerja pun kita tidak bisa produktif.
Untuk menjadi pendidik yang dapat ditauladani dalam proses pendidikan karakter, cara sederhana dapat kita lakukan. Sebagai contoh, melalui musik sederhana, kita dapat menitipkan nilai-nilai karakter di dalamnya. Dalam hal ini, Aristoteles mengingatkan bahwa ”Music has a power of forming the character, and should therefore be introduced into the education of the young”. Musik mempunyai satu kekuatan dalam pembentukan, dan karena itu akan dapat diperkenalkan dalam pendidikan bagi anak-anak dan generasi muda.
Sangat dianjurkan bagi trainer dan guru, sebelum memberikan model teoritis sebaiknya mengalami dulu, sehingga memudahkan kita untuk melakukan pelatihan. Trainer sebaiknya juga menghindari model teoritis yang terlalu banyak, karena dikhawatirkan akan membingungkan mereka. Untuk hal yang terakhir ini biasanya bisa dilakukan di kalangan kampus.
Dalam LVE kita harus menggali sebanyak mungkin pengalaman dari mereka, meskipun terkadang juga ada pengetahuan yang mau kita sampaikan kepada mereka. Metode disiplin apa yang digunakan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, sangat mempengaruhi pola pikir siswa. Disiplin yang dibangun berdasarkan nilai-nilai kesepakatan, keterbukaan, kerjasama, kejujuran, akan berpengaruh positif pada siswa. Disiplin adalah to be consisten, practice the values, tolerance, cleanliness, honesty, actuality. Dalam membuat peraturan disiplin berbasis nilai, anak harus dilibatkan dalam membuat aturan, sehingga siswa juga belajar bertanggungjawab pada diri sendiri dan orang lain.
Mendisiplinkan siswa merupakan usaha yang terus menerus. Orang tua harus sabar dalam menggali sifat disiplin ini pada anaknya. Untuk membuat penerapan disiplin ini mengena pada siswa dan agar efeknya berlangsung selamanya, maka hal berikut penting diperhatikan: Konsisten dalam memutuskan sesuatu atau mengatakan sesuatu. Menetapkan aturan-aturan terpenting dan konsekuensinya akan membuat siswa terbiasa dengan prinsip dan nilai-nilai. Kedua, hindari perkataan yang mencela anak. Seringkali keinginan untuk mencela dilakukan orang tua tanpa di sadari. Seakan komentar itu sudah otomatis keluar jika mendengar hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Memberi julukan jelek juga tidak diperbolehkan karena semakin sering kita memberinya julukan maka semakin ia menyadari bahwa julukan itu benar adanya. Dan julukan ini akan menetap di diri anak untuk waktu yang sangat lama.
LVE berada antara nilai disiplin dan kebebasan. Di mana LVE dalam teori-teori nilai? Jika terlalu dispilin maka suasana si anak merasa di penjara, tetapi jika terlalu bebas maka yang terjadi adalah anarkhisme. Maka LVE berada di antara titik tengah antara disiplin dan kebebasan. Di perancis titik tengah antara kebebasan dengan kesetaraan adalah persaudaraan. Liberty –Fraternity—egality. Disiplin adalah base on the values. Bagaiaman membedakan disiplin dengan punishment? Seringkali yang terjadi, baik di sekolah maupun di pesantren adalah jumping to congclusion karena tidak mau memikirkan alternatifnya, karena membutuhkan waktu, kesabaran, kearifan, dan alternatif. Hukuman dengan disiplin berbeda. Disiplin itu self awarnes, dibutuhkan perjalanan yang panjang untuk menemukan nilai.
Dalam disiplin ada ruang untuk mengembangkan diri. Jika si anak yang diberikan hukuman menerima sebagai proses pembelajaran, dan si anak mau melakukan dalam proses belajar maka ini baik. Apapun perbuatannya dan tindakannya jika dilakukan dengan cinta dan si anak merasakan cinta dan melakukannya dengan cinta, maka itu tidak menjadi masalah. Tapi jika si anak tidak merasakan cinta dan kasih sayang di dalamnya, malah sebaliknya tertekan, takut, maka dampaknya pasti tidak baik. Karenanya, penting bagi guru menciptakan peluang bagi anak melakukan “sesuatu yang baik” agar dapat diberi dorongan positif, misalnya pujian. Kebutuhan dasar setiap orang termasuk peserta didik adalah untuk diterima, dihargai, dipahami, dan merasa bernilai. Maka bila kita memperlakukan seseorang secara positif dengan penuh penghargaan, sudah pasti peserta didik dibantu mengalami nilai diterima dan dihargai. Perasaan inilah yang mendorong kemampuan pengembangan seseorang untuk lebih kreatif dan berani mengambil inisiatif.
Sekali lagi, penerapan nilai-nilai yang positif akan sangat membantu anak dalam menghadapi tantangan di kemudian hari. Namun terkadang perilaku anak yang bagi orang tua sangat tak biasa, membuat orang tua merasa kewalahan dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi mereka. Usia anak yang masih sangat muda membuat orang tua bingung harus memulai dari mana dalam mendidik anak. Padahal dunia anak yang sangat dinamis membutuhkan peran serta orang tua yang sangat serius.
Sebagai guru/orang tua, kita harus kembali pada sumber lingkungannya, apa yang mesti boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Kita harus libatkan anak untuk membuat peraturan, dan sampaikan hal-hal yang positif kepadanya, misalkan: Terimakasih sudah mendengarkan, terimakasih sudah tepat waktu. Jika masih ditemukan banyak pelanggaran, sebaiknya anak diajak bicara kembali mengenai peraturan itu: mengapa dilanggar? Berikan pada anak waktu untuk mengemukakan alasan-alasannya mengapa ia melakukan seperti itu. Itulah sebabnya, mengapa dalam LVE, anak-anak tidak butuh bantuan, yang butuh bantuan adalah orang dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa (guru) harus terlebih dahulu mengikuti training LVE.

Nilai yang paling utama dalam LVE
Tiga nilai utama dalam LVE—dari dua belas nilai: perdamaian, penghargaan, kasih sayang, toleransi, kerjasama, tanggungjawab, kesederhanaan, keikhlasan, kebahagiaan, kejujuran, kebebasan, dan persatuan—adalah perdamaian, penghargaan dan cinta. Setelah itu memberikan pengalaman pada peserta dan mengusahakan peserta mengalami adalah faktor terpenting dalam keseluruhan aktifitas LVE. Khusus bagi guru Sekolah Dasar, menurut harus diberi alokasi waktu lebih dengan asumsi penerapan LVE pada anak-anak membutuhkan waktu yang lama. LVE membutuhkan keterampilan dan kreatifitas guru mengingat LVE adalah media untuk menggali secara metodis bagaimana pengalaman anak mampu menginternalisasi pada dirinya dan membentuk kesadaran nilai, sehingga ketika eksternalisasi keluar, nilai-nilai itu dapat mempengaruhi lingkungannya secara positif.
Kedamaian adalah nilai dasar yang penting dalam teori LVE. Setiap fasilitator harus memulai dari Peace-respect and love. Nilai dasarnya adalah damai, cinta, dan respect. Dalam kebudayaan manapun tiga nilai ini menjadi dasar. Setelah itu kalaupun disesuaikan tidak masalah. Kenapa peace, respect, dan love? Karena ini sudah menjadi pertimbangan mendalam dalam LVE. Memang ada suatu kasus tidak bisa dimulai dari peace, karena kedamaian dianggap sesuatu yang asing dari luar, seperti di Maluku. Maka bisa dimulai dari respect. Begitu juga dengan nilai yang lain. Kebebasan, misalnya, di pesantren dianggapnya menjadi bagian dari kebebasan dalam pengertian lain, dan bukan kebebasan yang dikehendaki oleh si anak/peserta dalam lingkungan sekolah/belajar. Kebebasan di sini adalah bahwa kita membutuhkan kebebasan berbicara, berkumpul, berorganisasi.
“I will commited to process”, kata Kana Gopal—Trainer senior LVE di Singapura. Seorang trainer/guru harus belajar terus menerus, dan bertanya tentang diri sendiri. Yang paling penting adalah maukah terus belajar untuk menjadi yang terbaik. Sebagai guru/trainer tidak mesti harus tahu semuanya. Kalau tidak tau jawabannya, trainer/guru tidak perlu takut dan berkecil hati.
Banyak hal yang terungkap dalam LVE, mulai dari bagaimana proses pembentukkan nilai sampai bagaimana menggali dan mengembangkan potensi anak didik. Potensi yang dimaksudkan di sini berupa kognitif (kemampuan berpikir), afektif (kemampuan merasakan), dan psikomotor (kemampuan ketrampilan). Ketiga potensi itu berkembang dan membentuk kebiasaan, sifat, sikap, dan kepribadian seseorang dalam hidupnya. Penggalian nilai yang sejatinya sudah ada pada diri siswa/anak, menurut pandangan LVE sangat penting untuk pembentukan karakter masyarakat. Di sinilah peranan pendidikan menghidupkan nilai menunjukkan begitu pentingnya.
Dengan pendekatan LVE, banyak capai-capaian yang dapat kita sebut, beberapa diantaranya: menempatkan secara proporsional dan seimbang antara nalar kognitif, afektif dan psikomotorik. Melalui kegiatan LVE, proses belajar-mengajar tidak menempatkan siswa sebagai objek, tetapi menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, sehingga siswa mampu mengapresiasikan pengalaman dengan mendiskusikan materi pembelajaran secara bebas dan cerdas. Memberikan penghargaan kepada siswa serta berbagai apresiasi dan nilai-nilai positif lainnya sebagai dorongan untuk menumbuhkan nilai-nilai kepribadian (karakter) yang ada pada diri siswa. Menghindari sejauh mungkin perubahan pendekatan pelajaran yang tidak manusiawi (dehumanisasi) menuju pembelajaran yang memanusiakan manusia (humanisasi). Hal ini penting diperhatikan oleh para pendidik mengingat masih banyak di lingkungan sekolah maupun di pesantren model-model pembelajaran yang hanya menjadikan siswa atau santri sebagai objek pembelajar an-sich.

Potret Buram Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, maraknya tindak kekerasan atas nama agama, ideologi, kekuasaan dan lainnya, yang terjadi akhir-akhir ini tidak dapat dilepaskan dari peranan pendidikan. Pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan. Berbagai isu sosial Isu mengenai radikalisme masyarakat sudah begitu merebak hingga memunculkan pemakluman.
Hasil penelitian LaKIP [Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian]—Paramadina ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini—menunjukkan tingginya tingkat kecenderungan guru pendidikan agama Islam (PAI) dan siswa SMP-SMA beragama Islam di Jabodetabek terhadap intoleransi. Kecenderungan radikalisme, kekerasan, dan intoleransi menyelimuti guru pendidikan agama Islam (PAI) dan siswa SMP-SMA di Jabodetabek.
Kecenderungan itu terungkap dalam survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang dilakukan pada Oktober 2010-Januari 2011, melibatkan 590 dari total 2.639 guru PAI dan 993 siswa beragama Islam dari jumlah 611.678 murid sekolah menengah di Jabodetabek sebagai responden. Hasilnya mengagetkan. Menyangkut toleransi, misalnya, 62,7% responden guru PAI keberatan non-muslim membangun tempat ibadah di lingkungan tempat tinggal mereka, sedangkan siswa yang keberatan 40,7%. Saat ditanya jika non-muslim menjadi kepala sekolah, 57,2% guru dan 45,2% siswa tidak setuju. Hasil survei juga menunjukkan tingkat dukungan terhadap aksi kekerasan cukup tinggi. Begitu juga tingkat kesediaan mereka terlibat dalam aksi kekerasan terkait isu agama. [Media Indonesia, 27 Februari 2011]
Temuan itu menunjukkan kegagalan guru agama dalam menumbuhkan sikap kebhinekaan. Perlu evaluasi metode perekrutan guru PAI di sekolah ataupun di pusat pendidikan guru PAI. Sikap dan gejala radikalisme pada siswa dan guru PAI mencerminkan corak konservatif dalam beragama. Akibatnya, muncul kecenderungan diskriminatif terhadap posisi wanita ketimbang pria dan aspirasi pemberlakuan hukum agama dalam konteks negara. Untuk mengikis budaya kekerasan terkait isu agama harus melibatkan upaya memperkuat sikap toleransi sekaligus mengubah cara pandang konservatif. Di sinilah perlu kiranya pendidikan karakter segera direalisasikan dengan paradigma humanis, bukan akademis semata.
Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti. Dengan demikian, proses pendidikan karakter, ataupun pendidikan akhlak dan karakter bangsa sudah tentu harus dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.
Dalam naskah akademik Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Kementerian Pendidikan Nasional telah merumuskan lebih banyak nilai-nilai karakter (18 nilai) yang akan dikembangkan kepada anak-anak dan generasi muda bangsa Indonesia. Nilai-nilai karakter tersebut adalah: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab. [www.mendiknas.com]
Kalau selama ini pendidikan di Indonesia kurang berhasil membentuk karakter bangsa, mungkin karena konsep yang keliru dan patut dievaluasi demi perbaikan. Beberapa negara memberikan contoh yang baik tentang pendidikan karakter. Di Inggris, puisi-puisi Shakespeare menjadi bacaan wajib sekolah dasar dalam rangka menanamkan tradisi etik dan kebudayaan masyarakat tersebut. Di Swedia, aneka spanduk dibentangkan di hari raya berisi kutipan dari karya-karya kesusastraan. Di Perancis, sastrawan agung menghuni pantheon; jejak-jejak singgahnya di beberapa tempat diberi tanda khusus. Dengan mengambil ikhtiar dari moralitas para pahlawanannya dan kesusatraannya bisa menjadi wahana persemaian nilai-nilai dan praktis moralitas yang efektif. [Tempo Interaktif, 01 Februari 2011]

Pengalaman Paramadina
Paramadina sepanjang tahun 2009 dan tahun 2010 sudah banyak melakukan pelatihan LVE di sejumlah tempat. Tahun 2009, Paramadina melakukan training LVE untuk dosen dan pengasuh AKPOL bertempat di Hotel Santika Bandung. Pelatihan LVE di lingkungan AKPOL membawa dampak sangat positif, mengingat model pendidikan yang diterapkan sangatlah otoriter. Tradisi kekerasan ini sedikit demi sedikit berubah, setelah mereka mengikuti training LVE yang lebih menekankan pada kesadaran nilai, baik pada individu maupun lingkungan pergaulan di sekitarnya. Kurangnya bangunan komunikasi diantara mereka membuat hubungan satu sama lainnya berjalan tanpa kesadaran, bahwa kualitas nilai dalam hidup kita akan berpengaruh atau mempengaruhi nilai yang diluar.
Sepanjang bulan Januari sampai Desember 2010, Paramadina melakukan workshop maupun seminar LVE baik di Jawa maupun Luar Jawa. Di Luar Jawa: Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Maluku, Poso, Makasar, Ternate, Banda Aceh. Sementara di Jawa: Bogor, Garut, Yogyakarta, Jakarta. Workshop dan seminar ini dilaksanakan di sejumlah tempat, baik di Pesantren, Sekolah, Perguruan Tinggi dan LSM yang concern terhadap pendidikan.
Paramadina sangat concern pada isu-isu aktual, seperti kemajemukan, demokrasi, civil society, termasuk pendidikan. Seperti disinggung di atas, merebaknya kasus kekerasan atas nama agama di masyarakat, tidak lepas dari tanggungjawab para pendidik. Pendidikan agama yang seharusnya diarahkan menjadi media penyadaran umat, pada kenyataannya sampai saat ini masih memelihara kesan eksklusifitas. Sehinggga, dengan begitu, masyarakat akan tumbuh pemahaman yang tidak inklusif. Harmonisasi agama-agama di tengah kehidupan masyarakat tidak dapat terwujud. Tertanamnya kesadaran seperti itu niscaya akan menghasilkan corak paradigma beragama yang rigid dan tidak toleran.
Untuk itu diperlukan adanya upaya-upaya untuk merubah paradigma pendidikan yang eksklusif menuju paradigma pendidikan agama yang toleran dan inklusif. Model pengajaran agama yang hanya menekankan kebenaran agamanya sendiri mau tidak mau harus ”dibongkar ulang”. Sebab cara pemahaman teologi yang ekslusif dan intoleran pada gilirannya akan dapat merusak harmonisasi agama-agama dan menghilangkan sikap untuk saling menghargai kebenaran dari agama lain. Guru-guru inilah yang seharusnya menjadi mediator pertama untuk menterjemahkan nilai-nilai toleransi kepada siswa, yang pada tahap selanjutnya juga ikut berperan aktif dalam mentransfomasikan kesadaran toleransi secara lebih intensif dan massif.
Kita harus memiliki sekolah-sekolah yang giat mengajarkan agama-agama di dunia dalam konteks bidang studi sosial atau sejarah. Kita membutuhkan pemimpin agama yang terlatih yang tidak hanya mampu menanamkan keyakinan yang dalam pada komunitasnya, namun juga terpelajar secara agama, dan melalui jalur pendidikan kita perlu mengadakan pelatihan-pelatihan bersama dengan melibatkan berbagai komunitas lintas agama dan etnis untuk saling mengenal, memahami dan membangun sikap saling menghargai berdasarkan pengakuan atas persamaan, kesetaraan, dan keadilan. Dan melalui pendidikan karakter dan LVE inilah, kita secara terus menerus harus membangun harmonisasi dan saling menghargai satu sama lain untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Wallahu A’lam bi al-Shawab.


Disampaikan pada acara seminar "Sosialisasi Living Values Education (LVE) dalam Rangka Penguatan Pendidikan Karakter Berbasiskan Nilai", Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, 31 Maret 2011

Tidak ada komentar: